Lestari Alamku Lestari Negeriku Lestari Hutanku Lestari Indonesiaku (If something is worth doing, then it's worth doing right)
If something is worth doing, then it's worth doing right
!-end>!-local>
INGET
Selasa, 23 Maret 2010
Iwan Fals- Lancar
Intro : D G D E A D G D A D Sejak Palapaku Mengorbit Ke Angkasa Kemajuan Teknologiku Semakin Menggila Komunikasipun Bertambah Mudah Walau itu Jauh Di Luar Kota Disana Sini dan Dimana Mana Terlihat Berita Tentang Pembangunan Terciptalah Kini Pemerataan Bangsaku Kini Telah Dipintu Kemajuan Tinggal Semua Perlu Kesadaran Jangan Kita Berpangku Tangan Teruskan Hasil Perjuangan Dengan Jalan Apa Saja Yang Pasti Kita Temukan Asal Jangan Pembangunan Dijadikan Korban Asal Jangan Pembangunan Hanya Untuk Si Tuan Polan Disana Sini dan Dimana Mana Terlihat Berita Tentang Pembangunan Terciptalah Kini Pemerataan Bangsaku Kini Sudah Diambang Kemajuan Tinggal Semua Perlu Kesadaran Jangan Kita Berpangku Tangan Teruskan Hasil Perjuangan Dengan Jalan Apa Saja Yang Pasti Kita Temukan Asal Jangan Pembangunan Dibuat Kesempatan Asal Jangan Pembangunan Dijadikan Korban Asal Jangan Pembangunan Bikin Resah Kaum Susah Asal Jangan Pembangunan Bikin Mandul Hutan Gundul Asal Jangan Pembangunan Bikin Gendut Kulit Perut Asal Jangan Pembangunan Bikin Subur Kaum Makmur Asal Jangan Pembangunan Bikin Kotor Meja Kantor Asal Jangan Pembangunan Buat Senang Cacing Cacing
GALANG RAMBU ANARKI Galang Rambu Anarki anakku
Lahir awal Januari
Menjelang pemilu
Galang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru
Menyambutmu
Galang Rambu Anarki ingatlah
Tangisan pertamamu
Ditandai BBM membumbung tinggi
Maafkan kedua orang tuamu kalau
BBM naik tinggi
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi
Galang Rambu Anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu
Galang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru
Menyambutmu
Galang Rambu Anarki ingatlah
Tangisan pertamamu
Ditandai BBM melambung tinggi
Maafkan kedua orang tuamu kalau
BBM naik tinggi
Orang pintar tarik subsidi
Anak kami kurang gizi
Galang Rambu Anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Hantamlah sombongnya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu
Nazi-Muslim
Grand Mufti Yerusalem
Grand Mufti Yerusalem adalah ulama yang bertanggung jawab atas Yerusalem tempat-tempat suci Muslim, seperti Masjid Al-Aqsa.
Mohammad Amin al-Husaini memiliki gelar selama 27 tahun selama abad ke-20. Namun, posisi Grand Mufti Yerusalem telah diadakan oleh beberapa orang.
* Mohammed Tahir Husseini selama tahun 1890-an
* As'ad Shuqeiri 1914-1918
* Kamil Al-Husaini dari 1919
* Mohammad Amin al-Husaini 1921-1948
* Hussam Al-din Jarallah 1948-1954
* Sulaiman Ja'abari 1993-1994
* Ekrima Sa'id Sabri dari Oktober 1994 sampai Juli 2006
* Muhammad Ahmad Hussein dari Juli 2006 sampai saat ini
Grand Mufti Yerusalem adalah ulama yang bertanggung jawab atas Yerusalem tempat-tempat suci Muslim, seperti Masjid Al-Aqsa.
Mohammad Amin al-Husaini memiliki gelar selama 27 tahun selama abad ke-20. Namun, posisi Grand Mufti Yerusalem telah diadakan oleh beberapa orang.
* Mohammed Tahir Husseini selama tahun 1890-an
* As'ad Shuqeiri 1914-1918
* Kamil Al-Husaini dari 1919
* Mohammad Amin al-Husaini 1921-1948
* Hussam Al-din Jarallah 1948-1954
* Sulaiman Ja'abari 1993-1994
* Ekrima Sa'id Sabri dari Oktober 1994 sampai Juli 2006
* Muhammad Ahmad Hussein dari Juli 2006 sampai saat ini
Sejarah penting
" http://en.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Amin_al-Husayni
Universitas ini diberi nama setelah Fatimah yang merupakan putri Muhammad. Tiga gadis kecil seharusnya melihat visi Maria di Fatima di Lisbon, Portucal. Gereja Katolik Roma menghubungkan Islam untuk diri mereka sendiri melalui "visi" ini.
Mohammad Amin al-Husaini (bahasa Arab: محمد أمين الحسيني, sering dicetak dengan Prancis transliterasi al-Husseini, [1] 1895/1897 - 4 Juli 1974), seorang anggota al-Husaini klan dari Yerusalem, adalah seorang Palestina nasionalis Arab dan pemimpin Muslim di Mandat Britania atas Palestina. Dari tahun 1921 sampai 1948, dia adalah Grand Mufti Yerusalem, dan memainkan peran kunci dalam menentang Zionisme dan negara bagi orang-orang Yahudi yang tinggal di wilayah Palestina.
Pada awal 1920, ia aktif di kedua melawan Inggris untuk menjamin kemerdekaan Palestina sebagai Negara Arab dan memimpin kampanye kekerasan terhadap orang-orang Yahudi [2] menentang pembentukan sebuah rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina. Peran oposisi Nya memuncak selama 1936-1939 pemberontakan Arab di Palestina. Pada tahun 1937, ingin oleh Inggris, ia melarikan diri Palestina dan berlindung berturut-turut dalam Mandat Perancis Lebanon, Kerajaan Irak, Fasis Italia dan akhirnya Nazi Jerman. Di Jerman ia bertemu dengan diktator Adolf Hitler tahun 1941. [2] Dia meminta Hitler untuk mendukung kemerdekaan Arab dan meminta agar menentang Nazi Jerman, sebagai bagian dari Pan-Arab perjuangan, pendirian rumah nasional Yahudi di Palestina (penciptaan masa depan israel). [3] Pada 1947, ia meminta dana, atas dasar pertimbangan kemanusiaan, dari Ahmed Belbachir Haskouri, tangan kanan laki-laki dari khalifah dari Spanyol Maroko; yang terakhir, pada gilirannya, tidak ragu-ragu untuk meningkatkan dan mengirim dana tersebut. Selama Perang Palestina pada tahun 1948 ia mewakili Komite Tinggi Arab dan menentang baik Rencana Pembagian PBB tahun 1947 dan Raja Abdullah ambisi untuk memperluas Yordania dengan menangkap bagian-bagian Palestina.
Setelah Perang tahun 1948 dan kemudian Palestina Eksodus, klaim-klaimnya yang mendiskreditkan kepemimpinan di mata sebagian orang, dan ia akhirnya dikesampingkan oleh Organisasi Pembebasan Palestina dan kehilangan sebagian besar sisa pengaruh politik. [4] Al-Husaini meninggal di Beirut , Libanon pada tahun 1974.
Pada awal 1920, ia aktif di kedua melawan Inggris untuk menjamin kemerdekaan Palestina sebagai Negara Arab dan memimpin kampanye kekerasan terhadap orang-orang Yahudi [2] menentang pembentukan sebuah rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina. Peran oposisi Nya memuncak selama 1936-1939 pemberontakan Arab di Palestina. Pada tahun 1937, ingin oleh Inggris, ia melarikan diri Palestina dan berlindung berturut-turut dalam Mandat Perancis Lebanon, Kerajaan Irak, Fasis Italia dan akhirnya Nazi Jerman. Di Jerman ia bertemu dengan diktator Adolf Hitler tahun 1941. [2] Dia meminta Hitler untuk mendukung kemerdekaan Arab dan meminta agar menentang Nazi Jerman, sebagai bagian dari Pan-Arab perjuangan, pendirian rumah nasional Yahudi di Palestina (penciptaan masa depan israel). [3] Pada 1947, ia meminta dana, atas dasar pertimbangan kemanusiaan, dari Ahmed Belbachir Haskouri, tangan kanan laki-laki dari khalifah dari Spanyol Maroko; yang terakhir, pada gilirannya, tidak ragu-ragu untuk meningkatkan dan mengirim dana tersebut. Selama Perang Palestina pada tahun 1948 ia mewakili Komite Tinggi Arab dan menentang baik Rencana Pembagian PBB tahun 1947 dan Raja Abdullah ambisi untuk memperluas Yordania dengan menangkap bagian-bagian Palestina.
Setelah Perang tahun 1948 dan kemudian Palestina Eksodus, klaim-klaimnya yang mendiskreditkan kepemimpinan di mata sebagian orang, dan ia akhirnya dikesampingkan oleh Organisasi Pembebasan Palestina dan kehilangan sebagian besar sisa pengaruh politik. [4] Al-Husaini meninggal di Beirut , Libanon pada tahun 1974.
Universitas Al-Azhar (Arab: الأزهر الشريف; Al-Azhar al-ʾ Šarīf, "Azhar Mulia"), adalah seorang Mesir lembaga pendidikan tinggi. Terhubung ke masjid Al-Azhar di Kairo Lama, Al-Azhar (dalam bahasa Arab: yang paling berkembang dan bersinar) adalah apa yang disebut baik karena dikelilingi oleh tempat-tempat yang berkilauan besar, [rujukan?] Atau sebagai disposisi penuh harapan, atau setelah nama Sayeda Fathimah Al-Zahra ', putri Nabi Muhammad. Masjid ini dibangun dalam dua tahun dari 969 M, tahun di mana fondasinya diletakkan. Madrasah terhubung dengan itu didirikan pada tahun 988 M.. Studi dimulai di Al-Azhar di bulan Ramadan Oktober 975 Masehi, ketika Ketua Mahkamah Agung Abul Hasan Ali bin Al-No'man mulai mengajar buku "Al-Ikhtisar", pada yurisprudensi Syi'ah. Itu menjadi sekolah Sunni menjelang akhir Abad Pertengahan, suatu orientasi itu tetap sampai hari ini. Ini adalah salah satu universitas tertua yang beroperasi di dunia.
The 13th Waffen Mountain Division dari SS Handschar (1st Kroasia) adalah salah satu dari tiga puluh delapan divisi menurunkan sebagai bagian dari Waffen-SS selama Perang Dunia II. Itu adalah yang terbesar dari divisi SS, dengan 21.065 orang pada puncaknya, terdiri hampir seluruhnya Jerman non-Muslim dan Katolik direkrut diambil dari Bosnia. Handschar (Bosnia / Kroasia: Handžar) adalah kata lokal untuk pedang Turki (bahasa Arab: Khanjar خنجر), sebuah simbol historis Bosnia dan Islam. Gambar dari menghiasi Handschar divisi bendera dan lambang.
The Handschar divisi infanteri pembentukan sebuah gunung, yang dikenal oleh Jerman sebagai "Gebirgsjäger". Ini digunakan untuk melakukan operasi melawan Yugoslavia Partisan di Pegunungan Balkan pada bulan Februari sampai September 1944.
The Handschar divisi infanteri pembentukan sebuah gunung, yang dikenal oleh Jerman sebagai "Gebirgsjäger". Ini digunakan untuk melakukan operasi melawan Yugoslavia Partisan di Pegunungan Balkan pada bulan Februari sampai September 1944.
Hizbollah Salute (Roman Salute) "Para Jesuit, dalam mengendalikan occultic Adolph Hitler dan homoseksual Reich Ketiga ....
boneka diktator di seluruh Eropa. Mereka adalah:
* Bavaria Jerman dan Reich Ketiga - [Adolph] Hitler [lahir-meninggal: 1889-1945]
* Italia - [Benito] Mussolini [lahir-meninggal: 1883-1945]
* France 'Vichy' - [Henri Philippe] Petain [lahir-meninggal: 1856-1951]
* Spanyol - [Francisco] Franco
* Austria - Seyss-Inquart dan Kardinal Initzer
* Polandia - Frank
* Slovakia - [Yesuit] Imam Tiso
* Kroasia - [Ante] Pavelic
* Belgia - Degrelle.
Juga di Palestina ada Grand Mufti Husseini
Semua Katolik Roma, Yesuit-dikendalikan, Yahudi-membenci diktator yang setia kepada penjahat perang terbesar dari semua, Paus Pius XII Caesar dan master, Yesuit [Superior] Umum Wlodimir Ledochowski. "
- Eric Jon Phelps
* Bavaria Jerman dan Reich Ketiga - [Adolph] Hitler [lahir-meninggal: 1889-1945]
* Italia - [Benito] Mussolini [lahir-meninggal: 1883-1945]
* France 'Vichy' - [Henri Philippe] Petain [lahir-meninggal: 1856-1951]
* Spanyol - [Francisco] Franco
* Austria - Seyss-Inquart dan Kardinal Initzer
* Polandia - Frank
* Slovakia - [Yesuit] Imam Tiso
* Kroasia - [Ante] Pavelic
* Belgia - Degrelle.
Juga di Palestina ada Grand Mufti Husseini
Semua Katolik Roma, Yesuit-dikendalikan, Yahudi-membenci diktator yang setia kepada penjahat perang terbesar dari semua, Paus Pius XII Caesar dan master, Yesuit [Superior] Umum Wlodimir Ledochowski. "
- Eric Jon Phelps
YAHUDI HITLER DAN PERISTIWA YANG MENYEBABKAN PECAHNYA PERANG DUNIA II
YAHUDI MENGGENGGAM DUNIA
PAWNS IN THE GAME
WILLIAM H. CARR
Kita sampai pada tahap baru dalam sejarah umat manusia yang punya anti tersendiri bagi generasi sekarang. Tahap ini merupakan lembaran dunia baru dari akibat yang langsung kita rasakan. Yaitu tahapan yang dimulai sejak pra Perang Dunia I sampai Perang Dunia II.
Bangsa Jerman keluar dari perang penuh dengan kepahitan, dan pcrjanjian Versailles menjerat Jerman dengan rantai berupa kewajiban negara yang kalah perang dan kekacauan sosial melanda negara itu, serta sistem pemerintahannya runtuh berkeping-keping, betapa pun bangsa Jcrman dikenal sebagai bangsa yang ulet dan rajin bekerja. Kepedihan itu makin bertambah dengan meningkatnya kekacauan dan penghinaan yang dilontarkan oleh negara-negara sekutu yang Jerman tidak mampu membalasnya. Marah dan dendam terus ditahan, sambil melihat dengan berat kenyataan yang ada di hadapannya. Mayoritas bangsa Jerman tahu, bahwa angkatan bersenjatanya belum kalah perang. Jerman belum menyerah, bahkan bisa dikatakan lebih mendekati kemenangan. Jermanlah yang melakukan penyerbuan dari segala penjuru tahun 1918, yaitu pada akhir Perang Dunia I. Dengan kata lain, Jerman pada masa akhir perang itu masih tetap merupakan pihak yang mengambil prakarsa. Akan tetapi, Jerman ditikam dari belakang oleh kelompok Yahudi, yang membuat onar dan kekacauan dalam jajaran angkatan bersenjata Jerman, dan bergabungnya Amerika ke dalam barisan sekutu dari faktor luar. Kepemimpinan Roza Luxumburg beserta para pendukung Yahudinya dari partai Komunis Jerman, peran kaum Komunis yang membuat kekacauan di Jerman, disusul dengan pemberontakan Komunis, semua itu merupakan kenangan abadi yang pahit bagi Jerman, bahwa orang Yahudi di mata mereka adalah sekutu musuh Jerman.
Pcrjanjian Versailles muncul pada saat kondisi psikologis, politik dan sosial dalam keadaan tidak menentu, penuh dengan dendam kesumat yang diexploitasi oleh para pemilik modal internasional, yang akhirnya semua itu dapat terungkap. Semangat anti Yahudi tumbuh subur mewarnai aspirasi nasional bangsa Jerman secara menyeluruh.
A. Faktor Ekonomi.
Bukan hanya rakyat jelatan Jerman yang mengalami perasaan seperti itu. Para cendekiawan khususnya di kalangan pemerintahan, dan para ahli ekonomi itu juga merasakan hal itu. Akan tetapi, perhatian mereka dicurahkan ke masalah vital lainnya, yaitu masalah ekonomi. Mereka menyadari adanya jurang yang membuat Jerman terperosok kedalamnya, setelah para pemilik modal internasional menguasai perekonomian negara itu, sehingga Jerman secara ekonomi menggantungkan diri kepada kredit luar negeri, yang ada hubungannya secara langsung dengan lembaga keuangan internasional lewat bank negara-negara besar. Para cendikiawan dan politisi Jerman bukan tidak tahu adanya bahaya hutang-piutang semcam itu yang mencekik leher, ibarat tangan ikan gurita yang melilit mangsanya sedikit demi sedikit yang akhirnya akhirnya bisa mematikan itu. Bunga kredit itu, dan bunga dari bunganya senantiasa bertambah terus meneurs, yang akhirnya berkembang menjadi berlipat ganda dari kredit semula. Untuk membayar kredit itu pemerintah terpaksa menaikkan pajak yang dikenakan pada rakyatnya dari hasil pertanian, industri, perdagangan dan income nasional. Dengan kata lain, arti kredit itu tidak lain adalah perbudakan nasional bagi seluruh rakyat.
Melihat kenyataan seperti itu, para cendikiawan dan politisi Jerman menyadari bahaya cekikan perekonomian negara. Mereka segera mengadakan kesepakatan untuk mencari jalan keluar, yang bisa menyelamatkan Jerman dari ancaman bahaya di atas. Dengan demikian, iklim pembebasan krisis ekonomi telah lahir untuk menyambut setiap langkah yang bisa menyelamatkan Jerman bersama rakyatnya. Muncullah Hitler dengan Nazismenya yang menyerukan kebangkitan Jerman dalam segala aspek kehidupan termasuk membebaskan diri dari ikatan pihak asing, dan mencetak mata uang sendiri, tanpa bergantung pada kredit. Ia segera mendapat dukungan penuh dari bangsa Jerman. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengatur income nasional, sumber daya alam Jerman, industri, pertanian dan kekayaan alam untuk kepentingan bangsa, demi terwujudnya self-reliance atau berdikari.
Langkah ini pada dasamya merupakan ungkapan nyata yang mewakili aspirasi bangsa Jerman, dan tuntutan mereka. Oleh sebab itu, sambutan mereka ibarat api yang menyambut bensin. Nazisme naik pada tingkat kekuatan politik paling atas yang terorganisir dengan baik. Pendukungnya terdiri dari unsur pemuda, para tokoh intelektual dan para pilitisi, yang secara serentak menghendaki Jerman muncul kembali sebagai kekuatan dunia yang harus diperhitungkan. Kehadiran Adolf Hitler di atas pentas percaturan politik Jerman merupakan tokoh penuh dinamika, yang mampu merebut simpati segenap lapisan masyarakat Jerman. Ditambah dengan keberhasilan Musollini dan Facismenya di Italia yang terus berjaya menunjukkan kekuatannya, dan munculnya beberapa tokoh diktator di Eropa merupakan faktor yang mendorong Hitler dan Nazismenya bangkit dan menguasai Eropa.
Melihat perkembangan di Jerman, para pemilik modal internasional mengatur siasat setan. Meskipun sasaran Hitler ditujukan kepada orang Yahudi, namun para pemilik modal internasional justru mendorong seruan nasionalisme ekstrem Nazi dan pembangunan ekonomi, yang digalakkan oleh Hitler. Dan lagi, setelah Hitler naik daun, para pemilik modal intemasional bersedia menarik beban beban kredit yang memberatkan Jerman, dan merelakan hutang pampasan perang yang ditolak oleh Hitler. Bahkan mereka memberikan pinjaman lunak kepada Hitler untuk proyek industri dan perdagangan Jerman. Mereka kemudian mendesak Stalin dan dunia Barat untuk tutup mulut atas kebangkitan militer Jerman secara besar-besaran dari waktu ke waktu. Dalam masalah ini, banyak pengamat sejarah dunia belum menemukan jawaban, mengapa Stalin dan dunia Barat tinggal diam di hadapan Fuhrer Adolf Hitler, yang pada awal perjalanannya masih sangat lemah,yang bisa di hancurkan cukup hanya dengan kekuatan militer Perancis atau Inggris sendiri.
Kegelapan politik saat itu, kenapa para analis, para sejarawan dan para penulis tidak mempersoalkan perjalanan sejarah, yang membuat Eropa tidakmengambil tindakan terhadap langkah agresif Hitler, mulai dari pembatalan perjanjian Versailles, penolakan untuk membayar pampasan perang, membangun kembali militer Jerman, pendudukan atas wilayah Ruhr untuk dijadikan kawasan industri persenjataan Jerman, pendudukan Swedia, penyerbuan terhadap Chekoslovakia, aneksasi Austria ke dalam wilayah Jerman, dan seterusnya? Keberanian Hitler telah menaikkan namanya dan Nazisme, baik di dalam maupun di luar Jerman. Hitler telah keluar sebagai kekuatan yang membuat bulu roma negara-negara besar berdiri. Sementara itu, para pemilik modal Yahudi internasional terus membukakan peluang bagi Hitler, dan mengeluarkan dana besar-besaran secara terselubung, serta merancang pembunuhan terhadap sejumlah besar putra-putra Yahudi dengan meminjam tangan Hitler sebagai kambing tebusan (scape goat). Peristiwa ini kelak dijadikan propaganda untuk menuntut ganti rugi atas kematian mereka. Ini adalah bagian dari program jangka panjang, untuk membuka jalan bagi pecahnya Perang Dunia II.
Hitler mendapat kenangan gemilang pada saat Jerman sebenarnya masih dalam keadaan lemah, belum memiliki kekuatan militer yang memadai. Baru kemudian Hitler membangun angkatan bersenjatanya yang bisa diandalkan. Ia terpaksa membuka hubungan dengan golongan aristokrat militer Jerman golongan Arya’, yang dikenal oleh dunia dengan sebutan Junckers. Mereka inilah golongan yang memegang kendali kekuatan militer Jerman sejak beberapa generasi yang lalu. Maka timbullah Perselisihan intern di kalangan Nazi sendiri, antara golongan moderat yang ingin membangun Jerman dengan memperkuat sendi-sendinya, dan golongan ekstreme yang punya hubungan dengan golongan aristokrat militer, penganut faham Karl Reiter yang ingin mendirikan negara Jerman Tulen yang berdasarkan faham supremasi ras Arya, untuk menguasai seluruh Eropa dengan kekuatan tangan besi.
Banyak analis sejarah yang membahas masalah pertikaian intern dalam tubuh Nazi. Begitu pula media massa dan pergerakan politik sering membicarakannya, namun mereka tidak menyinggung sebab-sebab mendasar yang melatar-belakangi pertikaian ini. Hitler sendiri sebenarnya tidak memihak kepada golongan ekstreme, seperti sering disebut oleh beberapa penulis. Ia tetap bersikap netral tanpa memihak kepada golongan ekstrem, seperti sering disebut oleh beberapa penulis. Ia tetap bersikap netral tanpa memihak kepada salah satu pihak yang berselisih sampai tahun 1936, ketika peristiwa demi peristiwa yang terjadi akhirnya menempatkan Hitler menganut garis moderat. Ini terlihat jelas dari usaha yang dilakukan untuk mencoba mengadakan persahabatan dengan Inggris, dan berusaha menjauhi benturan dengan pihak gereja dan para penganut Kristen secara umum. Tindakan Hitler yang sangat berani adalah menutup The Grand Eastern Lodge di Jerman, yang merupakan sarang Free Masonry, mirip dengan The Grand Eastern Lodge yang terdapat di kota besar Eropa lainnya yang dikuasai oleh para pemilik modal internasional. Meskipun perkumpulan The Grand Eastern Lodge di Jerman melarang orang Yahudi menjadi anggotanya, namun faham atheisme yang terdapat dalam perkumpulan itu bukan tidak lebih berbahaya daripada prinsip para pemilik modal Yahudi internasional. Nazisme merupakan salah satu bentuk atheisme yang menuhankan negara Jerman. Seluruh dunia harus tundukkepada Jerman dengan kekuatan, dan membangun kebudayaan supremasi ras Arya Jerman.
Di tengah-tengah perselisihan antar-kelompok dalam Nazi, pribadi Hitler bagi kelompok moderat merupakan sosok pimpinan baru dan bapak pembangunan Jerman. Bagi kelompok ekstrem, Hitler adalah seorang Fuhrer bagi Jerman, dan seorang pimpinan bangsa Arya. Sedang Hitler sendiri berusaha menjauhkan diri dari pelukan golongan aristokrat militer Aryan, yang bagi Hitler sendiri tidak dibutuhkan, karena ia mampu membangun militer Jerman tanpa harus minta bantuan mereka. Hitler yakin, bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan perdamaian, dan memberikan pukulan mematikan kepada para pemilik modal Yahudi internasional itu adalah mengadakan persekutuan dengan negara super power di Eropa pada saat itu, yaitu Inggris. Maka, arah politik Hitler ditujukan kepada persekutuan sejenis itu. Antara tahun 1933-1936 Hitler selalu berusaha mengadakan hubungan dengan Inggris, agar bisa membentuk persekutuan bersama. la mempunyai tekad seperti itu sejak masih dalam bukunya yang diberi judul Perjuanganku. Katanya,”Seandainya aku diminta untuk membela kerajaan Inggris dengan kekuatan, pastilah permintaan itu akan kukabulkan dengan senang hati”. Hitler kurang jeli, bahwa usaha untuk mencapai keinginan seperti itu terhalang oleh dua kendala besar, yaitu:
1. Para pemilik modal internasional tahu, bahwa dukungan bagi kebangkitan dan militerisasi Jerman yang digalakkan oleh Hitler akan membuka jalan bagi pecahnya perang yang mereka rancang sebelumnya. Di lain pihak, Hitler punya beberapa sasaran utama yang akan dituju dalam persekutuannya dengan Inggris, di antaranya mengenyahkan orang-orang Yahudi sampai ke akar- akarnya.
2. Golongan aristokrat militer Aryan di Jerman, yang dari para sejarawan mendapat julukan “Para Pialang Perang Nazi”, tidak mau berkompromi, kecuali demi kekuasaan Jerman atas seluruh Eropa, dan membangun kebudayaan yang berpijak pada supremasi bangsa Arya Jerman.
Dengan demikian, kedua kekuatan itu telah sepakat dalam satu hal, yaitu mencegah Hitler untuk mengadakan perjanjian persekutuan dengan Inggris, dan mencegah Jerman dari setiap upaya untuk tidak terlibat dalam perang yang akan datang. Oleh karena itu, usaha Hitler untuk mengadakan hubungan dengan Inggris berkali-kali mengalami kegagalan. Pihak golongan Nazi ekstrem menjadi jengkel melihat Hitler selalu berusaha berjalan melawan arus yang ditempuh oleh golongan aristokrat militer Jerman. Akhirnya sebuah persekongkolan berusaha untuk membunuh Hitler, tetapi gagal. Usaha pembunuhan kedua terjadi tahun 1936, karena Hitler berusaha lagi mengadakan perjanjian persekutuan dengan Inggris. Tujuannya untuk menghadapi kekuatan para pemilik modal Yahudi internasional, bahaya Komunisme di Eropa dan untuk menghindari perang yang sudah terasa segera akan pecah. Usaha Hitler untuk mengadakan perjanjian persahabatan dengan Inggris yang terakhir dilakukan bulan Januari 1936 di Berlin, ibukota Jerman. Inggris diwakili oleh Lord Lowend, sedang Jerman oleh Hitler sendiri dan tangan kanannya Gurring dan menteri luar negerinya Von Reintrop. Kita perlu mengetahui masalah ini lebih luas, karena ini merupakan titik perubahan sikap Hitler yang menyentuh perkembangan kondisi Jerman secara keseluruhan. Untuk itu, kita perlu menelaah buku karya Lord Lowend yang diberi judul Kita dan Jerman (We are and Germany), dan menengok kembali artikel yang dimuat oleh harian The Evening Standard berbahasa Inggris edisi 23 April 1936.
Hitler membeberkan kepada Lord Lowend tentang sikap Jerman terhadap masalah internasional yang dihadapi oleh dunia, khususnya tentang bahaya Komunisme dan bahaya organisasi para pemilik kapital besar. Hitler menjelaskan sebab- sebab yang melatar-belakangi sikap kerasnya terhadap kelompok Yahudi internasional, dan keprihatinan Jerman atas penelusupan organisasi Zionisme yang masuk ke Eropa dan Amerika Serikat. Hitler berpendapat, bahwa untuk menghindari bahaya itu harus lebih dulu menyingkirkan kelompok pemilik modal Yahudi internasional sampai ke akar-akarnya, dengan mengingatkan kembali apa yang diucapkan oleh Desraeli, perdana menteri Inggris kenamaan berdarah Yahudi akhir abad ke 19 dalam catatan diarynya, “Sesungguhnya yang memerintah dunia adalah segelintir orang yang jauh berbeda dari apa yang dibayangkan oleh orang yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di balik layar”. Reintrop menandaskan kata-kata Hitler. Lord Lowend kemudian menyebutkan laporan komite kerajaan Inggris yang diberi tugas menyelidiki skandal percukaian Kanada di bawah pimpinan Mr Stevens pada tahun 1927 - 1928. Von Reintrop sendiri saat itu berada di Kanada. Dalam laporan itu dijelaskan, bahwa sindikat penyelundupan yang punya hubungan dengan para pemilik modal Yahudi internasional bisa mengeruk uang setiap tahunnya lebih dari 100 juta dolar Amerika. Jumlah itu sangat besar waktu itu, yang diperoleh lewat sogokan, pemerasan dan sebagainya, sehingga titbul-goncangan kehidupan sosial dan politik di Kanada. Untuk memperkuat laporan pemerintah Inggris itu, Von Reintrop menambahkan, bahwa kebobrokan seperti itu, lebih dulu harus disingkirkan sumbernya, yaitu kelompok pemilik modal internasional. Pembicaraan itu berakhir setelah Von Reintrop dan Gurring memaparkan pemikiran dan pandangan profesor Karl Reiter dan para ideolog Nazi kepada Lord Lowend. Hitler menutup pertemuan itu dengan meminta, agar menteri Inggris itu menyampaikan kepada pemerintahnya tentang sikap dan pandangan Hitler, dan menawarkan untuk mempertimbangkan kemungkinan terbentuknya persekutuan bersama antara Jerman dan Inggris. Setelah tiba di Inggris, Lord Lowend menyampaikan gagasan dan pandangan Hitler kepada pemerintah Inggris, tetapi ditolak mentah-mentah. Lord Lowend diberi tugas kembali untuk menjelaskan penolakan tersebut. Pada tanggal 21 Pebruari 1936 Lord Lowend kirim surat kepada Von Reintrop yang berisi penolakan pemerintah Inggris atas gagasan dan tawaran Hitler, dan menerangkan faktor-faktor penyebabnya. Hitler kemudian sepenuhnya berpaling kepada golongan aristokrat militer Jerman, dengan mengambil prinsip dan rancangan mereka. Sejak itu Hitler berkeyakinan, bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan cita-cita bangsa Jerman dan membinasakan musuh-musuhnya adalah perang.
Sejak tahun 1936 tahap kedua masa pemerintahan Hitler dimulai. Prinsip Nazisme berhaluan keras telah mewarnai sepak terjangnya untuk mempersiapkan diri menghadapi perang. Sementara itu, apa yang terjadi di Italia mirip dengan apa yang terjadi di Jerman. Akibatnya yang wajar, Hitler tertarik untuk mendekati Musollini, yang akhirnya keduanya membentuk poros Berlin-Roma. Spanyol merupakan medan percobaan bagi kekuatan yang bertikai di Eropa, yaitu Hitler dan Musollini berpihak kepada kaum nasionalis. Perang saudara tersebut berakhir pada bulan Juli 1936 dengan kemenangan di pihak jenderal Franco kemudian tampil sebagai pemimpin baru di Spanyol.
B. Pertikaian antara Nazisme dan Kristen.
Kaum nasionalis di Spanyol yang didukung oleh Hitler dan golongan Kristen tidak bisa mengelakkan permusuhan antara Hitler dan gereja Katolik, sejak Hitler memihak dan bergandengan tangan dengan golongan aristokrasi militer Jerman. Kasta ini berpegang pada faham atheisme dalam sepak terjangnya, yaitu menjadikan negara Jerman dan prinsip supremasi ras Arya sebagai Tuhan. Para tokoh Protestan bergabung dengan gereja Katolik untuk menghadapi langkah-langkah Hitler. Gabungan ini terjadi karena terpanggil untuk menentang faham atheisme yang dijadikan pegangan oleh golongan Nazi ekstrem itu. Pertentangan antara Hitler dan gereja makin tampak jelas menjelang akhir tahun 1936, dan mencapai puncaknya ketika Paus Pius XI menulis surat kepausannya kepada gereja di seluruh dunia tanggal 14 Maret 1937. Isinya, Sri Paus menyerang Nazisme secara terbuka, khususnya sehubungan dengan prinsip ketuhanan nasional bagi suatu bangsa dengan menjelaskan, bahwa Allah adalah Tuhan bagi semesta alam, bukan hanya bagi makhluk atau ras tertentu.
Tanggal 19 Agustus 1938 para tokoh gereja Protestan Jerman mengedarkan surat berisi kecaman keras terhadap prinsip atheisme yang dianut oleh Nazi. Disebutkan tentang sikap para tokoh Nazi di Jerman terhadap agama Kristen secara terbuka, disertai dengan statemen fuhrer tentang nasionalisme Aryan Jerman yang di-Tuhan-kan itu. Gereja Protestan bersama Katolik mengambil sikap melawan dan menentang Hitler dan Nazismenya. Berikut ini adalah cuplikan isi surat tersebut:
“Tujuan para tokoh Nazi bukan saja menghancurkan gereja Katolik atau gereja Protestan, melainkan juga ingin menghancurkan ajaran Kristen yang berlandaskan Tuhan semesta alam, untuk diganti secara praktis dengan Tuhan Ras Jerman. Apakah yang dimaksud dengan Tuhan Ras Jerman itu ? Apakah ada bedanya dari Tuhan bangsa lain? Kalau demikian, setiap bangsa punya Tuhan sendiri, yang berarti tidak ada Tuhan’ sama sekali”.
Para tokoh Nazi menanggapi sikap gereja itu dengan sikap keras. Suhu politik di Jerman hampir mirip dengan situasi perang sipil yang disebabkan oleh pertikaian kepercayaan agama. Untuk menghadapi perkembangan situasi dalam negeri, Hitler mengeluarkan undang-undang tegas dengan sangsi hukuman yang berat bagi setiap ancaman terhadap kekuasaan politik mutlak negara Nazi. Sejak itu situasi tegang yang terjadi di Jerman tampak mereda. Akan tetapi, pertengkaran mendasar antara Nazi dan gereja tetap tidak bisa berkurang.
Perkembangan situasi di Italia tidak jauh berbeda secara umum dari situasi di Jerman. Akan tetapi, pertikaian yang ada di Italia berasal dari persengketaan tentang perebutan tanah jajahan antara Italia di satu pihak serta Inggris dan Perancis di pihak lain. Kesamaan Musollini di Italia dengan Hitler di Jerman merupakan sekutu alami dalam menghadapi setiap tantangan musuh. Persekutuan poros Nazi-Fascisme terungkap dengan jelas ketika Italia dan Jerman terlibat dalam perang saudara di Spanyol, yang keduanya memihak jenderal Franco, yang akhimya Francolah yang menang. Demikianlah awal wajah poros Berlin-Roma. Pada mulanya Hitler dan Musollini mengira, bahwa jenderal Franco segera akan bergabung ke dalam persekutuan mereka setelah menang perang itu. Namun pandangan politik Franco yang lebih banyak dipengaruhi oleh keyakinan ajaran agama Kristen yang dianutnya, telah menjadi penghalang untuk bergabung bersama. Franco tetap bersikap seperti ini, meskipun berkali-kali mendapat tekanan dari Hitler dan Musollini. Dengan demikian, kepercayaan yang dipegang teguh telah menjauhkan negerinya dari kancah perang yang menghancurkan.
Kemudian poros Berlin-Roma mengalihkan perhatiannya ke Timur Jauh. Di sini mereka mendapatkan sekutu ketika tanpa kesuiitan, karena perang ekonomi yang telah mencapai puncaknya antara Jepang dan Dunia Barat. Barang-barang produksi Jepang sudah dikenal oleh seluruh dunia dengan ragam dan modelnya serta harganya yang murah. Hal ini merupakan ancaman bagi barang-barang produksi Eropa. Pihak Barat mengumumkan perang terhadap pcrdagangan dan industri Jepang yang akan menghancurkan perekonomiannya. Maka wajarlah kalau Jepang mencari kawan yang bisa dijadikan sekutu, dan menyambut baik pendekatan yang dilakukan oleh poros Berlin-Roma, yang juga memusuhi Dunia Barat. Dengan demikian, terbentuklah poros Berlin-Roma-Tokyo. terbukalah sekarang jalan bagi program para pemilik modal Yahudi internasional. Mereka mengantar dunia menuju perang yang tidak bisa di hindarkan lagi. Mereka segera bersiap siap untuk menyambut kedatangan perang itu.
Tokoh yang dipersiapkan untuk memimpin perang dari Inggris adalah Winston Churchill. Dari Amerika tampil Franklin Roosevelt, yang punya hubungan dekat dengan Baruch, seorang kapitalis kelas dunia. Lebih berbahaya lagi, karena ia adalah salah seorang tokoh yang menggerakkan organisasi Zionisme internasional dan Konggres Yahudi internasional selama hampir setengah abad. Selama hidupnya ia melakukan pengkhianatan terhadap bangsa Amerika Serikat. Hubungan gelapnya dengan Churchill bukan merupakan rahasia lagi. Keduanya sering mengadakan pertemuan dan kunjungan secara teratur sejak beberapa tahun lamanya. Dan yang paling menonjol adalah, kunjungan Churchill kepada Baruch pada tahun 1954, ketika Churchill menyampaikan terus terang hubungannya dengan organisasi Zionisme, yang telah terjalin sejak lama. Namun ini tidak berarti, bahwa para pemilik modal Yahudi internasional menemukan jalan mulus untuk mencapai cita-citanya di Inggris, meskipun Churchill telah membantu proyek yang dicanangkan.
Di Inggris sendiri terdapat benturan keras dengan sebuah tantangan terorganisasi yang digerakkan oleh kalangan intelektual kelas atas. Kalangan ini telah lama menyadari bahaya yang mengancam Inggris yang datang dari Konggres Yahudi dan para pemilik modal Yahudi internasional.
Orang yang mengingatkan kalangan intelektual tentang bahaya yang mengancam inggris dari balik layar adalah seorang wartawan bernama Victor Marsedan , yang bertugas di Rusia untuk harian The Morning Past berbahasa Inggris yang terbit di London. la menyaksikan berbagai peristiwa yang terjadi di Rusia ketika itu. Ia juga mendapatkan satu eksemplar buku yang ditulis oleh Sergay Niloss berjudul “Bahaya Yahudi” yang terbit tahun 1905. Dalam buku itu profesor Niloss memuat dokumen rahasia yang ia peroleh dari seorang wanita kaya di Paris yang berhasil mencuri dari kekasihnya, seorang kapitalis Yahudi terkemuka pada saat itu, yang baru saja kembali dari pertemuan rahasia yang diadakan oleh para tokoh The Grand Eastern Lodge Perancis. Setelah mengkaji dan menganalisa buku profesor Niloss itu, Victor Marsedan segera berniat mengingatkan bangsanya tentang bahaya yang sedang mengancam negerinya. Sebenarnya ia sudah berniat segera kembali ke London, tapi situasi dan peristiwa besar yang terjadi di Rusia memaksa ia untuk menangguhkan kepulangannya hingga tahun 1921. Setelah tiba di Inggris, Marsedan segera menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Inggris, dan mengedarkannya dengan judul The Protocols of Learned Elderly of Zion. Marsedan menyadari, bahwa dengan menerjemahkan dan mengedarkan buku itu berarti is meletakkan diri dalam posisi berbahaya. Namun ia tetap tidak mau mundur dari tekadnya. Setelah buku itu beredar, terjadilah goncangan besar di Inggris, yang kemudian menjalar ke seluruh dunia. Para pemilik modal Yahudi segera melangkah mengadakan propaganda besar-besaran dengan melemparkan tuduhan klasik, seperti biasa mereka lakukan, bahwa dokumen yang terdapat dalam buku Niloss itu palsu, yang bertujuan hendak meniupkan gelombang anti semitik.
Kami (penulis) menjadikan buku Niloss ini sebagai rujukan utama. Setelah mengadakan kajian dan analisa mendalam selama beberapa tahun, akhirnya kami sampai pada kesimpulan yang meyakinkan, bahwa dokumen Niloss, atau yang dikenal dengan Protocols of learned elderly of Zion tidak lain adalah ucapan asli yang disampaikan dalam Konggres yang diadakan oleh Amschell Rothschild tahun 1773 di Francfurt, yang telah kami kutipkan selengkapnya pada bab terdahulu. Perlu kami tambahkan disini, bahwa kekuatan setan itu sejak lama telah membentuk organisasi yang memiliki jaringan internasional, dengan tujuan menghancurkan masyarakat dunia. Organisasi ini tidak lain adalah faham Zionisme dan Komunisme sebagai kedok yang membungkus gurita busuk. Para pemilik modal internasional tidak bisa memukul Marsedan secara terbuka. Banyak kawan Marsedan justru akan membuka rahasia lebih luas lagi. Marsedan tetap bekerja pada harian The Morning Post sampai tahun 1927. Saat itu, golongan yang berpengaruh di Inggris yang menyadari bahaya Yahudi internasional bisa membujuk pemerintah Inggris untuk mengangkat Marsedan sebagai orang kepercayaan putra mahkota Inggris, Duke of Wales. Waktu putra mahkota akan mengadakan lawatan panjang keliling wilayah kerajaan Inggris, Marsedan diminta untuk mendampingi sang pangeran.
Sepulang dari lawatan itu, sang pangeran tidak lagi bergaya hidup mewah dan boros, tapi berubah menjadi orang yang berpandangan jauh. Selama dalam perjalanan, Marsedan sengaja menunjukkan semua dokumen dan bukti yang ada padanya tentang seluk beluk Konspirasi internasional, dan peran yang dimainkan oleh para pemilik modal Yahudi internasional dari balik layar. Setelah beberapa saat pulang dari lawatannya berkeliling bersama sang pangeran, Marsedan meninggal dunia secara mengejutkan. Ini jelas bukan peristiwa kebetulan.
Di sisi lain, Setelah kembali dari perjalanannya, sang pangeran mengalihkan pola hidupnya dari hidup pesta pora dan bersenang-senang kepada hidup serius untuk memanfaatkan peluang baik dalam memikirkan politik dan ekonomi. Ia suka membaur dengan berbagai kalangan rakyat. Sang pangeran telah meninggalkan adat kebiasaan turun temurun, yang melarang seorang pangeran campur tangan dalam masalah umum. Ia menentang setiap langkah politik yang telah ia ketahui berasal dari prakarsa para pemilik modal Yahudi. Jelaslah kiranya, pangeran telah masuk ke dalam pertikaian melawan kekuatan terselubung yang sedang memerintah Inggris. Hal ini benar-benar terjadi ketika ia menaiki tahta kerajaan Inggris bulan Mei 1936 dengan gelar Raja Edward VIII.
Para pemilik modal Yahudi internasional segera tahu, bahwa pertikaiannya melawan raja baru Inggris itu adalah perang yang menentukan. Mereka tidak mau membuang-buang kesempatan dalam penyerangannya kepada Raja Edward VIII, sejak raja naik tahta. Mereka amat berpengalaman sejak berabad-abad lamanya dalam menghadapi masalah seperti ini, dan banyak belajar untuk mempersiapkan segalanya dalam rangka operasinya. Mereka mulai menyerbu dengan propaganda gosip yang terkenal itu. Ini ternyata tidak mudah. Sebab, Raja Edward diketahui hidup bersih sejak ia kembali dari lawatannya itu. Namun mereka tidak kehilangan akal. Mereka segera menemukan sasaran yang dicari pada diri wanita terkenal bernama Willy Simson. Ia adalah seorang janda jelita berkebangsaan Amerika, yang hendak dikawin oleh Edward. Segeralah mesin propaganda besar-besaran diarahkan kepada masalah ini untuk membentuk opini umum di Inggris menentang wanita itu. Masalah ini menjadi isu paling hangat di Inggris, dan memaksa Edward memilih salah satu alternatif, turun tahta atau kawin dengan Willy Simson. Edward diperingatkan oleh perdana menteri Inggris Mr Boldwin agar menentukan sikap. Akhirnya Edward memilih turun tahta, dan melanjutkan pernikahannya dengan Willy Simson.
Inggris mengalami masa peralihan baru sejak Edward VIII turun tahta. Pertikaian terjadi antara para pemilik modal Yahudi internasional melawan para pendukung mantan Raja Edward yang masih bertahan merintangi gerak gerak mereka. Para pemilik modal Yahudi internasional bertekad akan mengalahkan para pendukung Edward, berapa pun harga yang harus dibayar, demi menaikkan seorang pendukung Zionisme kawakan Winston Churchill ke tampuk kekuasaan sebagai perdana menteri.
Kami pribadi (penulis) bertanya-tanya tentang sebab munculnya dokumen ini, yaitu The Protocols of Learned Elderly of Zion, ketika ditemukan oleh profesor Niloss setelah berapa di alam rahasia sejak tahun 1773, yaitu lebih dari satu seperempat abad lamanya. Jawaban ini kemudian terungkap dalam analisa kami mengenai periode itu yang punya arti lebih penting daripada yang pernah mereka alami dalam sejarah mereka. Dunia telah dipersiapkan untuk menerjuni Perang Dunia I, setelah semua jalan yang menuju perang itu terbuka lebar. Mereka dituntut mengadakan pertemuan penting dalam rangka menjajaki masalah perang itu dan rancangannya. Bukan hanya ini saja keistimewaan periode tersebut. Di sana terdapat peristiwa demi peristiwa berbahaya yang telah dipersiapkan oleh pihak Konspirasi secara serentak terhadap umat manusla. Peristiwa itu belum pernah disaksikan dalam sejarah dunia, yang menyebabkan para tokoh Konspirasi sendiri terpaksa berbondong-bondong membanjiri kota London pada tahun 1893 dengan membawa serta dokumen-dokumen, berbagai program dan hasil kajian penting mereka. Berbagai pertemuan rahasia yang mereka adakan terus berlangsung di London saat itu. Sebagian dokumen rahasia itu disimpan oleh para tokoh Konspirasi yang berdiam di London, sampai mereka meninggal dunia dan setelah itu. Pada waktu para tokoh The Grand Eastern Lodge mengadakan pertemuan di Paris tahun 1901, salah seorang peserta kapitalis Yahudi membawa dokumen itu ke London, langsung setelah pertemuan itu usai. Pada saat ia menginap di rumah seorang wanita kaya kekasihnya, dokumen itu lenyap.
Pcristiwa yang membuat kekuatan Konspirasi terpaksa mengadakan berbagai pertemuan dimulai tahun 1896, ketika terjadi perang Boer yang berkobar di Afrika Selatan. Para pemilik modal internasional berhasil menguasai tambang emas di sana. Lalu disusul dengan sejumlah peristiwa pembunuhan terkenal yang telah kita bicarakan terlebih dahulu. Di samping itu, di belahan bumi lain terjadi pula perang antara Spanyol dan Amerika tahun 1896. Ada indikasi kuat, bahwa Winston Churchill muncul pertama kali ketika terjadi perang Boer itu. Saat itu ia bekerja sebagai koresponden perang di Afrika Selatan. Hubungannya dengan Zionisme telah terjalin sejak masa mudanya, seperti diakuinya sendiri pada tahun 1954. Churchill sangat bangga sebagai tokoh Zionis, dan bekerja sesuai dengan program terselubung berjangka panjang, yang diawasi oleh Zionisme internasional, yang bertujuan menguasai dunia.
PAWNS IN THE GAME
WILLIAM H. CARR
Kita sampai pada tahap baru dalam sejarah umat manusia yang punya anti tersendiri bagi generasi sekarang. Tahap ini merupakan lembaran dunia baru dari akibat yang langsung kita rasakan. Yaitu tahapan yang dimulai sejak pra Perang Dunia I sampai Perang Dunia II.
Bangsa Jerman keluar dari perang penuh dengan kepahitan, dan pcrjanjian Versailles menjerat Jerman dengan rantai berupa kewajiban negara yang kalah perang dan kekacauan sosial melanda negara itu, serta sistem pemerintahannya runtuh berkeping-keping, betapa pun bangsa Jcrman dikenal sebagai bangsa yang ulet dan rajin bekerja. Kepedihan itu makin bertambah dengan meningkatnya kekacauan dan penghinaan yang dilontarkan oleh negara-negara sekutu yang Jerman tidak mampu membalasnya. Marah dan dendam terus ditahan, sambil melihat dengan berat kenyataan yang ada di hadapannya. Mayoritas bangsa Jerman tahu, bahwa angkatan bersenjatanya belum kalah perang. Jerman belum menyerah, bahkan bisa dikatakan lebih mendekati kemenangan. Jermanlah yang melakukan penyerbuan dari segala penjuru tahun 1918, yaitu pada akhir Perang Dunia I. Dengan kata lain, Jerman pada masa akhir perang itu masih tetap merupakan pihak yang mengambil prakarsa. Akan tetapi, Jerman ditikam dari belakang oleh kelompok Yahudi, yang membuat onar dan kekacauan dalam jajaran angkatan bersenjata Jerman, dan bergabungnya Amerika ke dalam barisan sekutu dari faktor luar. Kepemimpinan Roza Luxumburg beserta para pendukung Yahudinya dari partai Komunis Jerman, peran kaum Komunis yang membuat kekacauan di Jerman, disusul dengan pemberontakan Komunis, semua itu merupakan kenangan abadi yang pahit bagi Jerman, bahwa orang Yahudi di mata mereka adalah sekutu musuh Jerman.
Pcrjanjian Versailles muncul pada saat kondisi psikologis, politik dan sosial dalam keadaan tidak menentu, penuh dengan dendam kesumat yang diexploitasi oleh para pemilik modal internasional, yang akhirnya semua itu dapat terungkap. Semangat anti Yahudi tumbuh subur mewarnai aspirasi nasional bangsa Jerman secara menyeluruh.
A. Faktor Ekonomi.
Bukan hanya rakyat jelatan Jerman yang mengalami perasaan seperti itu. Para cendekiawan khususnya di kalangan pemerintahan, dan para ahli ekonomi itu juga merasakan hal itu. Akan tetapi, perhatian mereka dicurahkan ke masalah vital lainnya, yaitu masalah ekonomi. Mereka menyadari adanya jurang yang membuat Jerman terperosok kedalamnya, setelah para pemilik modal internasional menguasai perekonomian negara itu, sehingga Jerman secara ekonomi menggantungkan diri kepada kredit luar negeri, yang ada hubungannya secara langsung dengan lembaga keuangan internasional lewat bank negara-negara besar. Para cendikiawan dan politisi Jerman bukan tidak tahu adanya bahaya hutang-piutang semcam itu yang mencekik leher, ibarat tangan ikan gurita yang melilit mangsanya sedikit demi sedikit yang akhirnya akhirnya bisa mematikan itu. Bunga kredit itu, dan bunga dari bunganya senantiasa bertambah terus meneurs, yang akhirnya berkembang menjadi berlipat ganda dari kredit semula. Untuk membayar kredit itu pemerintah terpaksa menaikkan pajak yang dikenakan pada rakyatnya dari hasil pertanian, industri, perdagangan dan income nasional. Dengan kata lain, arti kredit itu tidak lain adalah perbudakan nasional bagi seluruh rakyat.
Melihat kenyataan seperti itu, para cendikiawan dan politisi Jerman menyadari bahaya cekikan perekonomian negara. Mereka segera mengadakan kesepakatan untuk mencari jalan keluar, yang bisa menyelamatkan Jerman dari ancaman bahaya di atas. Dengan demikian, iklim pembebasan krisis ekonomi telah lahir untuk menyambut setiap langkah yang bisa menyelamatkan Jerman bersama rakyatnya. Muncullah Hitler dengan Nazismenya yang menyerukan kebangkitan Jerman dalam segala aspek kehidupan termasuk membebaskan diri dari ikatan pihak asing, dan mencetak mata uang sendiri, tanpa bergantung pada kredit. Ia segera mendapat dukungan penuh dari bangsa Jerman. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengatur income nasional, sumber daya alam Jerman, industri, pertanian dan kekayaan alam untuk kepentingan bangsa, demi terwujudnya self-reliance atau berdikari.
Langkah ini pada dasamya merupakan ungkapan nyata yang mewakili aspirasi bangsa Jerman, dan tuntutan mereka. Oleh sebab itu, sambutan mereka ibarat api yang menyambut bensin. Nazisme naik pada tingkat kekuatan politik paling atas yang terorganisir dengan baik. Pendukungnya terdiri dari unsur pemuda, para tokoh intelektual dan para pilitisi, yang secara serentak menghendaki Jerman muncul kembali sebagai kekuatan dunia yang harus diperhitungkan. Kehadiran Adolf Hitler di atas pentas percaturan politik Jerman merupakan tokoh penuh dinamika, yang mampu merebut simpati segenap lapisan masyarakat Jerman. Ditambah dengan keberhasilan Musollini dan Facismenya di Italia yang terus berjaya menunjukkan kekuatannya, dan munculnya beberapa tokoh diktator di Eropa merupakan faktor yang mendorong Hitler dan Nazismenya bangkit dan menguasai Eropa.
Melihat perkembangan di Jerman, para pemilik modal internasional mengatur siasat setan. Meskipun sasaran Hitler ditujukan kepada orang Yahudi, namun para pemilik modal internasional justru mendorong seruan nasionalisme ekstrem Nazi dan pembangunan ekonomi, yang digalakkan oleh Hitler. Dan lagi, setelah Hitler naik daun, para pemilik modal intemasional bersedia menarik beban beban kredit yang memberatkan Jerman, dan merelakan hutang pampasan perang yang ditolak oleh Hitler. Bahkan mereka memberikan pinjaman lunak kepada Hitler untuk proyek industri dan perdagangan Jerman. Mereka kemudian mendesak Stalin dan dunia Barat untuk tutup mulut atas kebangkitan militer Jerman secara besar-besaran dari waktu ke waktu. Dalam masalah ini, banyak pengamat sejarah dunia belum menemukan jawaban, mengapa Stalin dan dunia Barat tinggal diam di hadapan Fuhrer Adolf Hitler, yang pada awal perjalanannya masih sangat lemah,yang bisa di hancurkan cukup hanya dengan kekuatan militer Perancis atau Inggris sendiri.
Kegelapan politik saat itu, kenapa para analis, para sejarawan dan para penulis tidak mempersoalkan perjalanan sejarah, yang membuat Eropa tidakmengambil tindakan terhadap langkah agresif Hitler, mulai dari pembatalan perjanjian Versailles, penolakan untuk membayar pampasan perang, membangun kembali militer Jerman, pendudukan atas wilayah Ruhr untuk dijadikan kawasan industri persenjataan Jerman, pendudukan Swedia, penyerbuan terhadap Chekoslovakia, aneksasi Austria ke dalam wilayah Jerman, dan seterusnya? Keberanian Hitler telah menaikkan namanya dan Nazisme, baik di dalam maupun di luar Jerman. Hitler telah keluar sebagai kekuatan yang membuat bulu roma negara-negara besar berdiri. Sementara itu, para pemilik modal Yahudi internasional terus membukakan peluang bagi Hitler, dan mengeluarkan dana besar-besaran secara terselubung, serta merancang pembunuhan terhadap sejumlah besar putra-putra Yahudi dengan meminjam tangan Hitler sebagai kambing tebusan (scape goat). Peristiwa ini kelak dijadikan propaganda untuk menuntut ganti rugi atas kematian mereka. Ini adalah bagian dari program jangka panjang, untuk membuka jalan bagi pecahnya Perang Dunia II.
Hitler mendapat kenangan gemilang pada saat Jerman sebenarnya masih dalam keadaan lemah, belum memiliki kekuatan militer yang memadai. Baru kemudian Hitler membangun angkatan bersenjatanya yang bisa diandalkan. Ia terpaksa membuka hubungan dengan golongan aristokrat militer Jerman golongan Arya’, yang dikenal oleh dunia dengan sebutan Junckers. Mereka inilah golongan yang memegang kendali kekuatan militer Jerman sejak beberapa generasi yang lalu. Maka timbullah Perselisihan intern di kalangan Nazi sendiri, antara golongan moderat yang ingin membangun Jerman dengan memperkuat sendi-sendinya, dan golongan ekstreme yang punya hubungan dengan golongan aristokrat militer, penganut faham Karl Reiter yang ingin mendirikan negara Jerman Tulen yang berdasarkan faham supremasi ras Arya, untuk menguasai seluruh Eropa dengan kekuatan tangan besi.
Banyak analis sejarah yang membahas masalah pertikaian intern dalam tubuh Nazi. Begitu pula media massa dan pergerakan politik sering membicarakannya, namun mereka tidak menyinggung sebab-sebab mendasar yang melatar-belakangi pertikaian ini. Hitler sendiri sebenarnya tidak memihak kepada golongan ekstreme, seperti sering disebut oleh beberapa penulis. Ia tetap bersikap netral tanpa memihak kepada golongan ekstrem, seperti sering disebut oleh beberapa penulis. Ia tetap bersikap netral tanpa memihak kepada salah satu pihak yang berselisih sampai tahun 1936, ketika peristiwa demi peristiwa yang terjadi akhirnya menempatkan Hitler menganut garis moderat. Ini terlihat jelas dari usaha yang dilakukan untuk mencoba mengadakan persahabatan dengan Inggris, dan berusaha menjauhi benturan dengan pihak gereja dan para penganut Kristen secara umum. Tindakan Hitler yang sangat berani adalah menutup The Grand Eastern Lodge di Jerman, yang merupakan sarang Free Masonry, mirip dengan The Grand Eastern Lodge yang terdapat di kota besar Eropa lainnya yang dikuasai oleh para pemilik modal internasional. Meskipun perkumpulan The Grand Eastern Lodge di Jerman melarang orang Yahudi menjadi anggotanya, namun faham atheisme yang terdapat dalam perkumpulan itu bukan tidak lebih berbahaya daripada prinsip para pemilik modal Yahudi internasional. Nazisme merupakan salah satu bentuk atheisme yang menuhankan negara Jerman. Seluruh dunia harus tundukkepada Jerman dengan kekuatan, dan membangun kebudayaan supremasi ras Arya Jerman.
Di tengah-tengah perselisihan antar-kelompok dalam Nazi, pribadi Hitler bagi kelompok moderat merupakan sosok pimpinan baru dan bapak pembangunan Jerman. Bagi kelompok ekstrem, Hitler adalah seorang Fuhrer bagi Jerman, dan seorang pimpinan bangsa Arya. Sedang Hitler sendiri berusaha menjauhkan diri dari pelukan golongan aristokrat militer Aryan, yang bagi Hitler sendiri tidak dibutuhkan, karena ia mampu membangun militer Jerman tanpa harus minta bantuan mereka. Hitler yakin, bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan perdamaian, dan memberikan pukulan mematikan kepada para pemilik modal Yahudi internasional itu adalah mengadakan persekutuan dengan negara super power di Eropa pada saat itu, yaitu Inggris. Maka, arah politik Hitler ditujukan kepada persekutuan sejenis itu. Antara tahun 1933-1936 Hitler selalu berusaha mengadakan hubungan dengan Inggris, agar bisa membentuk persekutuan bersama. la mempunyai tekad seperti itu sejak masih dalam bukunya yang diberi judul Perjuanganku. Katanya,”Seandainya aku diminta untuk membela kerajaan Inggris dengan kekuatan, pastilah permintaan itu akan kukabulkan dengan senang hati”. Hitler kurang jeli, bahwa usaha untuk mencapai keinginan seperti itu terhalang oleh dua kendala besar, yaitu:
1. Para pemilik modal internasional tahu, bahwa dukungan bagi kebangkitan dan militerisasi Jerman yang digalakkan oleh Hitler akan membuka jalan bagi pecahnya perang yang mereka rancang sebelumnya. Di lain pihak, Hitler punya beberapa sasaran utama yang akan dituju dalam persekutuannya dengan Inggris, di antaranya mengenyahkan orang-orang Yahudi sampai ke akar- akarnya.
2. Golongan aristokrat militer Aryan di Jerman, yang dari para sejarawan mendapat julukan “Para Pialang Perang Nazi”, tidak mau berkompromi, kecuali demi kekuasaan Jerman atas seluruh Eropa, dan membangun kebudayaan yang berpijak pada supremasi bangsa Arya Jerman.
Dengan demikian, kedua kekuatan itu telah sepakat dalam satu hal, yaitu mencegah Hitler untuk mengadakan perjanjian persekutuan dengan Inggris, dan mencegah Jerman dari setiap upaya untuk tidak terlibat dalam perang yang akan datang. Oleh karena itu, usaha Hitler untuk mengadakan hubungan dengan Inggris berkali-kali mengalami kegagalan. Pihak golongan Nazi ekstrem menjadi jengkel melihat Hitler selalu berusaha berjalan melawan arus yang ditempuh oleh golongan aristokrat militer Jerman. Akhirnya sebuah persekongkolan berusaha untuk membunuh Hitler, tetapi gagal. Usaha pembunuhan kedua terjadi tahun 1936, karena Hitler berusaha lagi mengadakan perjanjian persekutuan dengan Inggris. Tujuannya untuk menghadapi kekuatan para pemilik modal Yahudi internasional, bahaya Komunisme di Eropa dan untuk menghindari perang yang sudah terasa segera akan pecah. Usaha Hitler untuk mengadakan perjanjian persahabatan dengan Inggris yang terakhir dilakukan bulan Januari 1936 di Berlin, ibukota Jerman. Inggris diwakili oleh Lord Lowend, sedang Jerman oleh Hitler sendiri dan tangan kanannya Gurring dan menteri luar negerinya Von Reintrop. Kita perlu mengetahui masalah ini lebih luas, karena ini merupakan titik perubahan sikap Hitler yang menyentuh perkembangan kondisi Jerman secara keseluruhan. Untuk itu, kita perlu menelaah buku karya Lord Lowend yang diberi judul Kita dan Jerman (We are and Germany), dan menengok kembali artikel yang dimuat oleh harian The Evening Standard berbahasa Inggris edisi 23 April 1936.
Hitler membeberkan kepada Lord Lowend tentang sikap Jerman terhadap masalah internasional yang dihadapi oleh dunia, khususnya tentang bahaya Komunisme dan bahaya organisasi para pemilik kapital besar. Hitler menjelaskan sebab- sebab yang melatar-belakangi sikap kerasnya terhadap kelompok Yahudi internasional, dan keprihatinan Jerman atas penelusupan organisasi Zionisme yang masuk ke Eropa dan Amerika Serikat. Hitler berpendapat, bahwa untuk menghindari bahaya itu harus lebih dulu menyingkirkan kelompok pemilik modal Yahudi internasional sampai ke akar-akarnya, dengan mengingatkan kembali apa yang diucapkan oleh Desraeli, perdana menteri Inggris kenamaan berdarah Yahudi akhir abad ke 19 dalam catatan diarynya, “Sesungguhnya yang memerintah dunia adalah segelintir orang yang jauh berbeda dari apa yang dibayangkan oleh orang yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di balik layar”. Reintrop menandaskan kata-kata Hitler. Lord Lowend kemudian menyebutkan laporan komite kerajaan Inggris yang diberi tugas menyelidiki skandal percukaian Kanada di bawah pimpinan Mr Stevens pada tahun 1927 - 1928. Von Reintrop sendiri saat itu berada di Kanada. Dalam laporan itu dijelaskan, bahwa sindikat penyelundupan yang punya hubungan dengan para pemilik modal Yahudi internasional bisa mengeruk uang setiap tahunnya lebih dari 100 juta dolar Amerika. Jumlah itu sangat besar waktu itu, yang diperoleh lewat sogokan, pemerasan dan sebagainya, sehingga titbul-goncangan kehidupan sosial dan politik di Kanada. Untuk memperkuat laporan pemerintah Inggris itu, Von Reintrop menambahkan, bahwa kebobrokan seperti itu, lebih dulu harus disingkirkan sumbernya, yaitu kelompok pemilik modal internasional. Pembicaraan itu berakhir setelah Von Reintrop dan Gurring memaparkan pemikiran dan pandangan profesor Karl Reiter dan para ideolog Nazi kepada Lord Lowend. Hitler menutup pertemuan itu dengan meminta, agar menteri Inggris itu menyampaikan kepada pemerintahnya tentang sikap dan pandangan Hitler, dan menawarkan untuk mempertimbangkan kemungkinan terbentuknya persekutuan bersama antara Jerman dan Inggris. Setelah tiba di Inggris, Lord Lowend menyampaikan gagasan dan pandangan Hitler kepada pemerintah Inggris, tetapi ditolak mentah-mentah. Lord Lowend diberi tugas kembali untuk menjelaskan penolakan tersebut. Pada tanggal 21 Pebruari 1936 Lord Lowend kirim surat kepada Von Reintrop yang berisi penolakan pemerintah Inggris atas gagasan dan tawaran Hitler, dan menerangkan faktor-faktor penyebabnya. Hitler kemudian sepenuhnya berpaling kepada golongan aristokrat militer Jerman, dengan mengambil prinsip dan rancangan mereka. Sejak itu Hitler berkeyakinan, bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan cita-cita bangsa Jerman dan membinasakan musuh-musuhnya adalah perang.
Sejak tahun 1936 tahap kedua masa pemerintahan Hitler dimulai. Prinsip Nazisme berhaluan keras telah mewarnai sepak terjangnya untuk mempersiapkan diri menghadapi perang. Sementara itu, apa yang terjadi di Italia mirip dengan apa yang terjadi di Jerman. Akibatnya yang wajar, Hitler tertarik untuk mendekati Musollini, yang akhirnya keduanya membentuk poros Berlin-Roma. Spanyol merupakan medan percobaan bagi kekuatan yang bertikai di Eropa, yaitu Hitler dan Musollini berpihak kepada kaum nasionalis. Perang saudara tersebut berakhir pada bulan Juli 1936 dengan kemenangan di pihak jenderal Franco kemudian tampil sebagai pemimpin baru di Spanyol.
B. Pertikaian antara Nazisme dan Kristen.
Kaum nasionalis di Spanyol yang didukung oleh Hitler dan golongan Kristen tidak bisa mengelakkan permusuhan antara Hitler dan gereja Katolik, sejak Hitler memihak dan bergandengan tangan dengan golongan aristokrasi militer Jerman. Kasta ini berpegang pada faham atheisme dalam sepak terjangnya, yaitu menjadikan negara Jerman dan prinsip supremasi ras Arya sebagai Tuhan. Para tokoh Protestan bergabung dengan gereja Katolik untuk menghadapi langkah-langkah Hitler. Gabungan ini terjadi karena terpanggil untuk menentang faham atheisme yang dijadikan pegangan oleh golongan Nazi ekstrem itu. Pertentangan antara Hitler dan gereja makin tampak jelas menjelang akhir tahun 1936, dan mencapai puncaknya ketika Paus Pius XI menulis surat kepausannya kepada gereja di seluruh dunia tanggal 14 Maret 1937. Isinya, Sri Paus menyerang Nazisme secara terbuka, khususnya sehubungan dengan prinsip ketuhanan nasional bagi suatu bangsa dengan menjelaskan, bahwa Allah adalah Tuhan bagi semesta alam, bukan hanya bagi makhluk atau ras tertentu.
Tanggal 19 Agustus 1938 para tokoh gereja Protestan Jerman mengedarkan surat berisi kecaman keras terhadap prinsip atheisme yang dianut oleh Nazi. Disebutkan tentang sikap para tokoh Nazi di Jerman terhadap agama Kristen secara terbuka, disertai dengan statemen fuhrer tentang nasionalisme Aryan Jerman yang di-Tuhan-kan itu. Gereja Protestan bersama Katolik mengambil sikap melawan dan menentang Hitler dan Nazismenya. Berikut ini adalah cuplikan isi surat tersebut:
“Tujuan para tokoh Nazi bukan saja menghancurkan gereja Katolik atau gereja Protestan, melainkan juga ingin menghancurkan ajaran Kristen yang berlandaskan Tuhan semesta alam, untuk diganti secara praktis dengan Tuhan Ras Jerman. Apakah yang dimaksud dengan Tuhan Ras Jerman itu ? Apakah ada bedanya dari Tuhan bangsa lain? Kalau demikian, setiap bangsa punya Tuhan sendiri, yang berarti tidak ada Tuhan’ sama sekali”.
Para tokoh Nazi menanggapi sikap gereja itu dengan sikap keras. Suhu politik di Jerman hampir mirip dengan situasi perang sipil yang disebabkan oleh pertikaian kepercayaan agama. Untuk menghadapi perkembangan situasi dalam negeri, Hitler mengeluarkan undang-undang tegas dengan sangsi hukuman yang berat bagi setiap ancaman terhadap kekuasaan politik mutlak negara Nazi. Sejak itu situasi tegang yang terjadi di Jerman tampak mereda. Akan tetapi, pertengkaran mendasar antara Nazi dan gereja tetap tidak bisa berkurang.
Perkembangan situasi di Italia tidak jauh berbeda secara umum dari situasi di Jerman. Akan tetapi, pertikaian yang ada di Italia berasal dari persengketaan tentang perebutan tanah jajahan antara Italia di satu pihak serta Inggris dan Perancis di pihak lain. Kesamaan Musollini di Italia dengan Hitler di Jerman merupakan sekutu alami dalam menghadapi setiap tantangan musuh. Persekutuan poros Nazi-Fascisme terungkap dengan jelas ketika Italia dan Jerman terlibat dalam perang saudara di Spanyol, yang keduanya memihak jenderal Franco, yang akhimya Francolah yang menang. Demikianlah awal wajah poros Berlin-Roma. Pada mulanya Hitler dan Musollini mengira, bahwa jenderal Franco segera akan bergabung ke dalam persekutuan mereka setelah menang perang itu. Namun pandangan politik Franco yang lebih banyak dipengaruhi oleh keyakinan ajaran agama Kristen yang dianutnya, telah menjadi penghalang untuk bergabung bersama. Franco tetap bersikap seperti ini, meskipun berkali-kali mendapat tekanan dari Hitler dan Musollini. Dengan demikian, kepercayaan yang dipegang teguh telah menjauhkan negerinya dari kancah perang yang menghancurkan.
Kemudian poros Berlin-Roma mengalihkan perhatiannya ke Timur Jauh. Di sini mereka mendapatkan sekutu ketika tanpa kesuiitan, karena perang ekonomi yang telah mencapai puncaknya antara Jepang dan Dunia Barat. Barang-barang produksi Jepang sudah dikenal oleh seluruh dunia dengan ragam dan modelnya serta harganya yang murah. Hal ini merupakan ancaman bagi barang-barang produksi Eropa. Pihak Barat mengumumkan perang terhadap pcrdagangan dan industri Jepang yang akan menghancurkan perekonomiannya. Maka wajarlah kalau Jepang mencari kawan yang bisa dijadikan sekutu, dan menyambut baik pendekatan yang dilakukan oleh poros Berlin-Roma, yang juga memusuhi Dunia Barat. Dengan demikian, terbentuklah poros Berlin-Roma-Tokyo. terbukalah sekarang jalan bagi program para pemilik modal Yahudi internasional. Mereka mengantar dunia menuju perang yang tidak bisa di hindarkan lagi. Mereka segera bersiap siap untuk menyambut kedatangan perang itu.
Tokoh yang dipersiapkan untuk memimpin perang dari Inggris adalah Winston Churchill. Dari Amerika tampil Franklin Roosevelt, yang punya hubungan dekat dengan Baruch, seorang kapitalis kelas dunia. Lebih berbahaya lagi, karena ia adalah salah seorang tokoh yang menggerakkan organisasi Zionisme internasional dan Konggres Yahudi internasional selama hampir setengah abad. Selama hidupnya ia melakukan pengkhianatan terhadap bangsa Amerika Serikat. Hubungan gelapnya dengan Churchill bukan merupakan rahasia lagi. Keduanya sering mengadakan pertemuan dan kunjungan secara teratur sejak beberapa tahun lamanya. Dan yang paling menonjol adalah, kunjungan Churchill kepada Baruch pada tahun 1954, ketika Churchill menyampaikan terus terang hubungannya dengan organisasi Zionisme, yang telah terjalin sejak lama. Namun ini tidak berarti, bahwa para pemilik modal Yahudi internasional menemukan jalan mulus untuk mencapai cita-citanya di Inggris, meskipun Churchill telah membantu proyek yang dicanangkan.
Di Inggris sendiri terdapat benturan keras dengan sebuah tantangan terorganisasi yang digerakkan oleh kalangan intelektual kelas atas. Kalangan ini telah lama menyadari bahaya yang mengancam Inggris yang datang dari Konggres Yahudi dan para pemilik modal Yahudi internasional.
Orang yang mengingatkan kalangan intelektual tentang bahaya yang mengancam inggris dari balik layar adalah seorang wartawan bernama Victor Marsedan , yang bertugas di Rusia untuk harian The Morning Past berbahasa Inggris yang terbit di London. la menyaksikan berbagai peristiwa yang terjadi di Rusia ketika itu. Ia juga mendapatkan satu eksemplar buku yang ditulis oleh Sergay Niloss berjudul “Bahaya Yahudi” yang terbit tahun 1905. Dalam buku itu profesor Niloss memuat dokumen rahasia yang ia peroleh dari seorang wanita kaya di Paris yang berhasil mencuri dari kekasihnya, seorang kapitalis Yahudi terkemuka pada saat itu, yang baru saja kembali dari pertemuan rahasia yang diadakan oleh para tokoh The Grand Eastern Lodge Perancis. Setelah mengkaji dan menganalisa buku profesor Niloss itu, Victor Marsedan segera berniat mengingatkan bangsanya tentang bahaya yang sedang mengancam negerinya. Sebenarnya ia sudah berniat segera kembali ke London, tapi situasi dan peristiwa besar yang terjadi di Rusia memaksa ia untuk menangguhkan kepulangannya hingga tahun 1921. Setelah tiba di Inggris, Marsedan segera menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Inggris, dan mengedarkannya dengan judul The Protocols of Learned Elderly of Zion. Marsedan menyadari, bahwa dengan menerjemahkan dan mengedarkan buku itu berarti is meletakkan diri dalam posisi berbahaya. Namun ia tetap tidak mau mundur dari tekadnya. Setelah buku itu beredar, terjadilah goncangan besar di Inggris, yang kemudian menjalar ke seluruh dunia. Para pemilik modal Yahudi segera melangkah mengadakan propaganda besar-besaran dengan melemparkan tuduhan klasik, seperti biasa mereka lakukan, bahwa dokumen yang terdapat dalam buku Niloss itu palsu, yang bertujuan hendak meniupkan gelombang anti semitik.
Kami (penulis) menjadikan buku Niloss ini sebagai rujukan utama. Setelah mengadakan kajian dan analisa mendalam selama beberapa tahun, akhirnya kami sampai pada kesimpulan yang meyakinkan, bahwa dokumen Niloss, atau yang dikenal dengan Protocols of learned elderly of Zion tidak lain adalah ucapan asli yang disampaikan dalam Konggres yang diadakan oleh Amschell Rothschild tahun 1773 di Francfurt, yang telah kami kutipkan selengkapnya pada bab terdahulu. Perlu kami tambahkan disini, bahwa kekuatan setan itu sejak lama telah membentuk organisasi yang memiliki jaringan internasional, dengan tujuan menghancurkan masyarakat dunia. Organisasi ini tidak lain adalah faham Zionisme dan Komunisme sebagai kedok yang membungkus gurita busuk. Para pemilik modal internasional tidak bisa memukul Marsedan secara terbuka. Banyak kawan Marsedan justru akan membuka rahasia lebih luas lagi. Marsedan tetap bekerja pada harian The Morning Post sampai tahun 1927. Saat itu, golongan yang berpengaruh di Inggris yang menyadari bahaya Yahudi internasional bisa membujuk pemerintah Inggris untuk mengangkat Marsedan sebagai orang kepercayaan putra mahkota Inggris, Duke of Wales. Waktu putra mahkota akan mengadakan lawatan panjang keliling wilayah kerajaan Inggris, Marsedan diminta untuk mendampingi sang pangeran.
Sepulang dari lawatan itu, sang pangeran tidak lagi bergaya hidup mewah dan boros, tapi berubah menjadi orang yang berpandangan jauh. Selama dalam perjalanan, Marsedan sengaja menunjukkan semua dokumen dan bukti yang ada padanya tentang seluk beluk Konspirasi internasional, dan peran yang dimainkan oleh para pemilik modal Yahudi internasional dari balik layar. Setelah beberapa saat pulang dari lawatannya berkeliling bersama sang pangeran, Marsedan meninggal dunia secara mengejutkan. Ini jelas bukan peristiwa kebetulan.
Di sisi lain, Setelah kembali dari perjalanannya, sang pangeran mengalihkan pola hidupnya dari hidup pesta pora dan bersenang-senang kepada hidup serius untuk memanfaatkan peluang baik dalam memikirkan politik dan ekonomi. Ia suka membaur dengan berbagai kalangan rakyat. Sang pangeran telah meninggalkan adat kebiasaan turun temurun, yang melarang seorang pangeran campur tangan dalam masalah umum. Ia menentang setiap langkah politik yang telah ia ketahui berasal dari prakarsa para pemilik modal Yahudi. Jelaslah kiranya, pangeran telah masuk ke dalam pertikaian melawan kekuatan terselubung yang sedang memerintah Inggris. Hal ini benar-benar terjadi ketika ia menaiki tahta kerajaan Inggris bulan Mei 1936 dengan gelar Raja Edward VIII.
Para pemilik modal Yahudi internasional segera tahu, bahwa pertikaiannya melawan raja baru Inggris itu adalah perang yang menentukan. Mereka tidak mau membuang-buang kesempatan dalam penyerangannya kepada Raja Edward VIII, sejak raja naik tahta. Mereka amat berpengalaman sejak berabad-abad lamanya dalam menghadapi masalah seperti ini, dan banyak belajar untuk mempersiapkan segalanya dalam rangka operasinya. Mereka mulai menyerbu dengan propaganda gosip yang terkenal itu. Ini ternyata tidak mudah. Sebab, Raja Edward diketahui hidup bersih sejak ia kembali dari lawatannya itu. Namun mereka tidak kehilangan akal. Mereka segera menemukan sasaran yang dicari pada diri wanita terkenal bernama Willy Simson. Ia adalah seorang janda jelita berkebangsaan Amerika, yang hendak dikawin oleh Edward. Segeralah mesin propaganda besar-besaran diarahkan kepada masalah ini untuk membentuk opini umum di Inggris menentang wanita itu. Masalah ini menjadi isu paling hangat di Inggris, dan memaksa Edward memilih salah satu alternatif, turun tahta atau kawin dengan Willy Simson. Edward diperingatkan oleh perdana menteri Inggris Mr Boldwin agar menentukan sikap. Akhirnya Edward memilih turun tahta, dan melanjutkan pernikahannya dengan Willy Simson.
Inggris mengalami masa peralihan baru sejak Edward VIII turun tahta. Pertikaian terjadi antara para pemilik modal Yahudi internasional melawan para pendukung mantan Raja Edward yang masih bertahan merintangi gerak gerak mereka. Para pemilik modal Yahudi internasional bertekad akan mengalahkan para pendukung Edward, berapa pun harga yang harus dibayar, demi menaikkan seorang pendukung Zionisme kawakan Winston Churchill ke tampuk kekuasaan sebagai perdana menteri.
Kami pribadi (penulis) bertanya-tanya tentang sebab munculnya dokumen ini, yaitu The Protocols of Learned Elderly of Zion, ketika ditemukan oleh profesor Niloss setelah berapa di alam rahasia sejak tahun 1773, yaitu lebih dari satu seperempat abad lamanya. Jawaban ini kemudian terungkap dalam analisa kami mengenai periode itu yang punya arti lebih penting daripada yang pernah mereka alami dalam sejarah mereka. Dunia telah dipersiapkan untuk menerjuni Perang Dunia I, setelah semua jalan yang menuju perang itu terbuka lebar. Mereka dituntut mengadakan pertemuan penting dalam rangka menjajaki masalah perang itu dan rancangannya. Bukan hanya ini saja keistimewaan periode tersebut. Di sana terdapat peristiwa demi peristiwa berbahaya yang telah dipersiapkan oleh pihak Konspirasi secara serentak terhadap umat manusla. Peristiwa itu belum pernah disaksikan dalam sejarah dunia, yang menyebabkan para tokoh Konspirasi sendiri terpaksa berbondong-bondong membanjiri kota London pada tahun 1893 dengan membawa serta dokumen-dokumen, berbagai program dan hasil kajian penting mereka. Berbagai pertemuan rahasia yang mereka adakan terus berlangsung di London saat itu. Sebagian dokumen rahasia itu disimpan oleh para tokoh Konspirasi yang berdiam di London, sampai mereka meninggal dunia dan setelah itu. Pada waktu para tokoh The Grand Eastern Lodge mengadakan pertemuan di Paris tahun 1901, salah seorang peserta kapitalis Yahudi membawa dokumen itu ke London, langsung setelah pertemuan itu usai. Pada saat ia menginap di rumah seorang wanita kaya kekasihnya, dokumen itu lenyap.
Pcristiwa yang membuat kekuatan Konspirasi terpaksa mengadakan berbagai pertemuan dimulai tahun 1896, ketika terjadi perang Boer yang berkobar di Afrika Selatan. Para pemilik modal internasional berhasil menguasai tambang emas di sana. Lalu disusul dengan sejumlah peristiwa pembunuhan terkenal yang telah kita bicarakan terlebih dahulu. Di samping itu, di belahan bumi lain terjadi pula perang antara Spanyol dan Amerika tahun 1896. Ada indikasi kuat, bahwa Winston Churchill muncul pertama kali ketika terjadi perang Boer itu. Saat itu ia bekerja sebagai koresponden perang di Afrika Selatan. Hubungannya dengan Zionisme telah terjalin sejak masa mudanya, seperti diakuinya sendiri pada tahun 1954. Churchill sangat bangga sebagai tokoh Zionis, dan bekerja sesuai dengan program terselubung berjangka panjang, yang diawasi oleh Zionisme internasional, yang bertujuan menguasai dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)


















