If something is worth doing, then it's worth doing right

INGET

Bangsa Elo Bangsa Penyampah, Lebih Baik Makan Dari Sampah Daripada dimakan Sumpah

Selasa, 28 September 2010

BAHASA INDONESIA ITU TIDAK SESULIT YANG DIBAYANGKAN ! ! !

Sulitnya Berbahasa Indonesia

Bahasa Indonesia itu sulit dan menyulitkan, penyebabnya adalah karena bahasa Indonesia itu mudah. Dalam konteks blogosfer saya persempit ke dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan saja, sebab menulis adalah sarana dengan upaya yang lebih murah dibandingkan dengan merekam ucapan kita dalam bentuk podcast atau videoblog.

Dalam pikiran saya sendiri termasuk ekspresi yang tertuang dalam tulisan-tulisan blog ini, saya berusaha menulis dengan bahasa Indonesia yang benar. Tentunya selalu disertai dengan kesalahan ejaan, tanda baca atau struktur kalimat. Setidaknya upaya mengacuhkan aturan tetap lebih baik daripada asal tulis yang berprinsip pada kebebasan berbicara. Kebebasan bukanlah lepas dari aturan, etika atau common-sense, apalagi kebebasan berbicara yang sering membuat orang lupa pada kebebasan yang jauh lebih hakiki, yaitu kebebasan berpikir. “Haree genee masih pake rington monoponik?” adalah ekspresi kebebasan berbicara, namun anda akan menemukan makna lain saat mendengar, “Haree genee masih ngomong haree genee?” Ada unsur penyanggahan pemikiran yang kontra positif meski tidak dalam tatanan bahasa Indonesia itu sendiri.

Bahasa Indonesia itu mudah

Kita mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia setidaknya dalam rentang pendidikan formal, bahkan sampai ke tingkat pertama universitas. Sebuah rentang yang panjang untuk memahami sebuah ilmu bahasa di mana bahasa Indonesia adalah bahasa nasional. Saya asumsikan mereka yang mendapatkan pendidikan formal mampu berbahasa Indonesia dengan mengabaikan faktor benar-salah dan baik-buruk. Dengan asumsi tersebut saya simpulkan bahasa Indonesia itu mudah.

Namun ternyata tidak sedikit juga yang mengatakan bahasa Indonesia itu sulit. Kemungkinan karena faktor mudahnya itu menjadikan paradigma mudah dikacaukan atau mudah dibuat slengean, sehingga muncul kesulitan saat harus menulis yang benar, apalagi yang baik.

Seiring kita belajar bahasa Indonesia yang benar, di luar sekolah kita berhadapan dengan media yang mempunyai pengaruh kuat kepada masyarakat dalam berbahasa. Dahulu di sekitar tahun 1980-an jika kita mendengar radio, menonton TV dan membaca koran kita menemukan kualitas bahasa yang jauh lebih baik daripada saat ini. Kini malah sebaliknya, media memasyarakatkan ekspresi slengean, menulis berita formal dengan gaya slengean juga, bahkan ditambah dengan penulisan tanda baca yang berantakan.

Paradigma “yang penting yang baca ngerti” sering dijadikan alasan untuk kemudahan sebaran informasi. Namun di sisi lain upaya tersebut tidak mencerahkan dan mencerdaskan. Kadang saya sendiri mendapat komentar di blog ini mengenai bahasa yang saya tulis sulit dimengerti, namun prinsip saya tetap, yaitu menulis dengan kaidah yang benar, berupaya benar. Saya biarkan kuantitas sebaran informasi berkurang, namun saya mendapat respon dari mereka yang tercerahkan, terlebih yang tercerdaskan. Itu sudah cukup, sebab aliran informasi di dunia internet dan blogosfer sudah tidak perlu saya upayakan lagi, terjadi dengan sendirinya.

Rintangan Mental

Kita sudah memasuki dunia dan budaya global. Selain arus informasi, sisa-sisa budaya dunia industri tetap melekat, termasuk kerancuan budaya instan terhadap budaya efektivitas dan efisiensi. Jika tidak instan berarti tidak keren. Banyak yang berpendapat kalimat bahasa Indonesia terlalu panjang untuk ekspresi yang sama dalam Bahasa Inggris. Banyak kosakata asing diserap dengan lafal dan ejaan yang sesuai. Kita tak perlu merasa hipokrit atau munafik menuliskan kosakata tersebut sebab bahasa Indonesia tidak punya kosakata asli yang bermakna hipokrit dalam Bahasa Inggris atau munafik dalam Bahasa Arab.

Jika anda berpikir sepakat dengan Hericz bahwa Bahasa Indonesia itu gag cool . apakah anda memang cool saat berbahasa Inggris? Menyampaikan kecerdasan berpikir terkadang diekspresikan dalam bentuk paradoks atau hipokritikal.

Selain kesulitan menulis juga kita sering dihantui kewaswasan pembaca tidak akan mengerti, sehingga yang keluar adalah kalimat-kalimat yang berprinsip “yang penting yang baca ngerti”. Prinsip ini akhirnya diterapkan dalam kondisi apapun, menjadi asumsi yang berlebihan. Jeleknya malah menghilangkan impresi terhadap apa yang kita tulis dan berlindung di balik alasan, “Makanya gaul dong, masa segitu aja gak ngerti? Nggak asik lu, ah!”

Makna Asosiatif

Terkadang saya heran terhadap makna asosiatif sehingga arti atau makna sebenarnya dilupakan orang. Kosakata seperti lokalisasi, gairah, atau merangsang cenderung membuat orang berpikir mesum meskipun dalam konteks yang jauh dari kemesuman. Blog ini saya pasang dengan lokalisasi bahasa Indonesia untuk merangsang penggunaan bahasa Indonesia dalam aplikasi blog agar lebih bergairah. Apakah anda terangsang dan lebih bergairah melihat lokalisasi antarmuka blog ini?

Orang cenderung menghindari penggunaan kosakata seperti di atas karena kewaswasan berlebihan disalahartikan pembaca, padahal dengan kalimat yang sama dan dengan penggantian kosakata lain tidaklah akan mengubah arti kalimat itu sendiri.

Bentukan Waktu

Saat pendapat dikemukakan mengenai bahasa Indonesia tidak mengenal bentukan kata terhadap waktu maka pendapat tersebut pastilah disampaikan oleh kecerdasan seseorang yang mempunyai kemampuan bahasa lain, terutama Bahasa Inggris. Pendapat tersebut sering berakhir dalam kesimpulan bahwa bahasa Indonesia itu jelek. Mungkin menurut orang Prancis bahasa Indonesia itu jelek karena tidak mengenal gender untuk setiap kata bendanya. Mungkin menurut orang Arab bahasa Indonesia itu jelek karena tidak mengenal kata ganti tunggal, dua dan jamak. Mungkin juga menurut orang Cina bahasa Indonesia itu jelek karena hanya bisa dituliskan dengan satu bentuk saja, tidak seperti kata pedang yang bisa dituliskan puluhan bentuk dalam tulisan Cina.

Ketika orang berpikir sulitnya mengekspresikan sesuatu dalam bahasa Indonesia maka pikiran pertama yang datang adalah bahasa Indonesia itu sulit, dan menyulitkan. Namun di sisi lain orang lupa, sulitnya berbahasa Indonesia bisa jadi adalah ketidakmampuan berbahasa Indonesia meski setiap hari menggunakannya, bahkan telah diajari dan dipelajari belasan tahun di pendidikan formal.

Dari semua yang telah saya sampaikan di atas tentunya masih banyak faktor lain yang berpengaruh. Satu hal lain yang masih mengganjal bagi saya pribadi adalah tidak adanya Pusat Bahasa menyediakan situs panduan berbahasa, menyediakan kamus bahasa Indonesia online, menyediakan sarana online untuk menerima masukan serapan kosakata, menerbitkan kosakata baru secara resmi, dan banyak lagi.
Kadang saya berpikir apakah Pusat Bahasa tertinggal di landasan di era globalisasi ini?

DIGITAL THEORY

Digital Theory dalam hal ini memaparkan berbagai analisa dan teori yang berhasil disusun dan dikembangkan oleh para ahli. Digital teori meliputi banyak aspek diantaranya adlah digital culture dan berbagai teori media batu yang terus mengalami perkembangan. Dibawah ini akan dipaparkan berbagai penjelasan mengenai digital culture dan bebrapa teori media baru :
Teori Modernisme dan Media Lama.
Pada awal abad kesembilan belas dunia tengan mengalami perkembangan tehnologi yang sangat pesat. Dengan keyakinan dalam kemajuan ilmiah tak terhindarkan, banyak aspek
modernisme cenderung memiliki keyakinan optimis pada kekuatan modernitas untuk
mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik. Namun, sebagai abad kedua puluh berlangsung,sehingga yang brutal efek ilmu pengetahuan dan industrialisasi pada kehidupan manusia. Digital Kulture umumnya terkait dengan banyak perubahan yang telah terjadi setelah
revolusi industri. Sebuah ekonomi pasca-industri (kadang dikenal sebagai post-Fordist)
adalah salah satu di mana sebuah transisi ekonomi telah diambil tempat dari sebuah manufaktur berbasis ekonomi untuk suatu perekonomian jasa berbasis. Masyarakat ini ditandai dengan munculnya baru informasi teknologi, globalisasi pasar keuangan, pertumbuhan layanan dan pekerja kerah putih dan penurunan industri berat. Tidak mengherankan, terlihat bahwa budaya dan politik yang dihasilkan lewat post ‘-industri’ masyarakat akan sangat berbeda dengan yang didominasi oleh industry konteks modernisme. Perubahan ini sebagian budaya dapat dipahami sebagai tak terelakkan-produk masyarakat konsumen, dimana konsumsi dan rekreasi sekarang
menentukan pengalaman kita daripada pekerjaan dan produksi. Salah satu teori mengatakan bahwa, “Dalam masyarakat masa kini dan budaya – masyarakat pascaindustri, postmodern
budaya – Narasi besar … telah kehilangan kredibilitasnya, terlepas dari apa penyatuan cara menggunakan, terlepas dari apakah itu bersifat spekulatif narasi atau sebuah narasi emansipasi … Setiap kali kita pergi mencari penyebab dalam cara kita terikat akan kecewa
.” (Lyotard 1984: 37-8)
Teori Media Baru.
Dalam hal ini banyak sekali ahli yang berusaha mendefinisikan apa itu digital theory berdasrkan analisa dan pengamatan masing-masing ahli. Mereka menghubungkan antara dunia digital dengan kehidupan anusia yang cenderung sudah mengarah kearah dunia digital yang penuh dengan kemudahan. New Media adalah ekspresi terbaik yang tersedia dari logika identitas dalam masyarakat – memilih nilai-nilai dari beberapa pilihan menu.Teori media baru ini lebih menekankan pada hal-hal yang saat ini sangat diinginkan oleh menusia yaitu dimana terdapat suatu media yang dapat membuat orang lebih aktif dan tidak hanya menjadi penonton saja. Banyak teori yang mungkin mengatakan bahwa New Media secara otomatis akan memperbaiki dunia kita menjadi lebih baik, tetapi kita di masa depan kesejahteraan jelas terletak pada bagaimana dan apa yang kita lakukan dengan pilihan yang kita sekarang memiliki yang ditawarkan.

ON THE INTERNET

Internet adalah sistem saling global jaringan komputer yang menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP / IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Ini adalah jaringan dari jaringan yang terdiri dari jutaan swasta, publik, bisnis, akademis, dan jaringan pemerintah, dari lokal untuk lingkup global, yang dihubungkan oleh sebuah array yang luas dari jaringan optik teknologi dan elektronik. Internet membawa berbagai macam informasi sumber daya dan layanan, seperti inter-linked hypertext dokumen dari Worl Wide Web (WWW) dan infrastruktur untuk mendukun surat elektronik .
Kebanyakan media komunikasi tradisional termasuk telepon, musik, film, dan televisi sedang dibentuk kembali maupun didefinisikan ulang oleh Internet. Surat kabar, buku dan penerbitan cetak lainnya yang harus beradaptasi dengan situs Web dan Blog . Internet telah diaktifkan atau mempercepat bentuk-bentuk baru interaksi manusia melalui pesan instan , forum internet, dan jejaring sosial . Belanja online meningkat drastis baik untuk gerai ritel besar dan kecil pengrajin dan pedagang. Business to bisnis dan jasa keuangan di Internet mempengaruhi pasokan rantai di seluruh industri.
Asal-usul Internet mencapai kembali ke tahun 1960-an dengan kedua penelitian swasta dan Amerika Serikat militer ke jaringan komputer kuat, fault-tolerant, dan didistribusikan. Dana sebesar US baru tulang punggung oleh National Sience Foundation , serta pendanaan swasta untuk tulang punggung komersial lainnya, menyebabkan partisipasi seluruh dunia dalam pengembangan teknologi jaringan baru, dan penggabungan banyak jaringan. Komersialisasi dari apa yang oleh maka jaringan internasional pada pertengahan tahun 1990 mengakibatkan populerisasi dan penggabungan ke dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia modern. Pada 2009, diperkirakan seperempat penduduk bumi menggunakan layanan Internet.
Internet tidak memiliki sentralisasi pemerintahan baik dalam implementasi teknologi atau kebijakan untuk akses dan penggunaan; setiap jaringan konstituen menetapkan standar sendiri. Hanya melampaui batas definisi dari dua pokok ruang nama di Internet, alamat Internet protocol ruang dan Sistem Nama Domain , diarahkan oleh organisasi pengelola, maka ICANN. Fondasi teknis dan standarisasi protokol inti ( IPv4 dan IPv6) adalah sebuah aktivitas Internet Engineering Task Force (IETF), sebuah organisasi nirlaba non afiliasi internasional peserta longgar bahwa siapa pun dapat mengaitkan dengan dengan menyumbangkan keahlian teknis. 
 
 
Terminology Terminologi 
 
Istilah Internet dan World Wide Web yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari tanpa perbedaan banyak. Namun, Internet dan World Wide Web tidak satu dan sama. Internet adalah sistem komunikasi data global. Ini adalah infrastruktur hardware dan software yang menyediakan konektivitas antara komputer.. Sebaliknya, Web adalah salah satu layanan komunikasi melalui Internet. Ini adalah kumpulan dokumen yang saling berhubungan dan sumber daya , dihubungkan oleh hyperlink dan url .
Internet istilah, ketika mengacu pada sistem global seluruh jaringan IP, secara tradisional diperlakukan sebagai kata benda dan ditulis dengan awal huruf kapital . Dalam media dan budaya populer tren telah dikembangkan untuk menganggapnya sebagai istilah atau kata benda umum generik dan dengan demikian menuliskannya sebagai "internet", tanpa kapitalisasi.