Tak gentar aku berjalan menyusuri kehidupan malam dikota ini
Dari tempat persembunyian yang rusuh dan kumuh aku berhembus mengikuti kata hati yang mulai berontak dan tak kunjung diam
Aku lemah, aku ikuti saja kemana kaki ini melangkah
Deru mesin-mesin ditengah keramaian kota siang tadi terasa mengganggu pikiranku
Teriknya matahari seolah membakar kulit dan telapak kakiku
Membakar hati dan imajinasiku
Membakar jiwa jiwa dan hatiku yang malang
Berkecamuk desah, amarah, bagai bencana datang menghujam
Pecah berantah hancur terpuruk
Jeritan bencana telah tersiar sedari tadi
Tampaknya benar bahwa alam sudah bosan melihat tingkah kita
Tampaknya benar bahwa alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Tahukah kau bahwa Alam ini ternyata lebih malang nasibnya dibanding nasibku
Tahukah kau bahwa alam ini ternyata lebih tersiksa dibanding aku
Alam pun diam, bertanya aku padamu hatiku
Alam pun diam, bertanya aku pada jiwaku
Oh, terperanjat aku melihat sekelilingku
Berkilau cahaya tiba-tiba ada dihadapanku
Berdiri kokoh sebuah tugu membawa kujang gagah perkasa
Apakah aku bermimpi…
Apakah aku berhalusinansi, melamun dan mengigau seperti kerbau yang diam dengan tatapan kosong yang tak ada artinya?
Ohh sakit…
Sakit, bagai lebah menggigit lengaku
aku cubit sekali lagi, oh tidak…
Ini adalah nyata
Ini bukanlah maya
Samar-samar kudengar suara merdu dijalanan
Suara itu…
Suara itu adalah dentingan gitar anak jalanan disebuah perapatan jalan
Gemuruh angin menyapu tubuh dan menaikkan bulu kudukku
Indah….
Damai…
Tenteram bagai hidup terbang melayang…
Terbebas aku dari beban-bebanku yang menyiksa itu
Terlepas aku dari lilitan persoalan dunia saat itu
Aku senang…
Aku bahagia…
Aku ingin suasana kota malam ini menjadi sebuah perenungan panjang dalam hidupku
Aku ingin suasana malam dikota ini menjadi sebuah perenungan panjang bagi mereka para penegak hukum
Aku ingin suasana malam dikota ini menjadi sebuah perenungan panjang bagi mereka penguasa bangsa ini
Aku senang aku hidup malam hari ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar