1. Taksonomi jabon (Anthocephalus cadamba)
Nama botanis jabon adalah Anthocephalus cadamba Miq. (Roxb.) atau sinonim dengan Anthocephalus indicus RICH (HELINGGA, 1950) dan Anthocephalus chinensis LAMK. (MADAMBA, 1975). Jabon tergolong suku Rubiaceae. Nama daerah jabon lainnya antara lain jabun, hanja, kelampeyan, kelampaian (Jawa); galupai, galupai bengkal, harapean, johan, kelempi, kiuna, selapaian, serebunaik (Sumatera); ilan, taloh, tawa telan, tuak, tuneh, tuwak (Kalimantan); bance pute, pontua, suge manai, pekaung, toa (Sulawesi); gumpayan, kelapan, mugawe, sencari (NTB); aparabire, masarambi (Papua Barat).
Berdasarkan taksonominya jabon digolongkan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas : Asteridae
Ordo : Rubiales
Familia : Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus : Anthocephalus
Spesies : Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.
2. Sifat Botani
Jabon berupa pohon, dapat mencapai tinggi sekitar 45 m dengan panjang bebas cabang 30 m, diameter dapat mencapai 160 cm. Batang silindris, bertajuk tinggi, dengan cabang mendatar, berbanir sampai ketinggian 1,5 m, kulit luar berwarna kelabu-coklat sampai coklat, sedikit beralur dangkal.
3. Penyebaran dan habitat
Daerah penyebaran jabon tumbuh pada iklim yang dipengaruhi oleh muson tropika. Mulai dari India sampai ke kepulauan Malaynesia. Terdapat di Nepal, Bengal, Assam, Ceylon, Vietnam, Burma, Semenanjung Malaya, Serawak, Sabah, Indonesia, Filipina, Papua New Guinea, dan Australia. Di Indonesia terdapat di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sumba, Sumbawa, dan Irian Jaya.
Jabon dapat tumbuh mulai dari dataran rendah pinggir laut sampai ke daerah pegunungan rendah dengan ketinggian 0-1.000 m dpl, di Jawa pada umumnya tumbuh di bawah 1.000 m dpl.
4. Kegunaan
Jabon merupakan jenis kayu yang mempunyai berat jenis rata-rata 0,42 (0,29-0,56), kelas kuat III-IV dan kelas awet V. Kayu jabon banyak digunakan untuk korek api, kayu lapis, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, pulp dan kertas, kelompen dan kontruksi darurat yang ringan (Martawijaya et al, 1989). Penggunaan kayu terpenting adalah untuk pembuatan peti, papan tipis, korek api, potlot, finir dan kayu lapis selainnya untuk kayu bakar dan arang.
2.2 Ekologi dan Silvikultur
Ekologi
Jabon pada umumnya tumbuh di tanah aluvial lembab di pinggir sungai dan di daerah peralihan antara tanah rawa dan tanah kering yang kadang-kadang digenangi air. Jabon juga dapat tumbuh dengan baik di tanah liat, tanah lempung podsolik cokelat, tanah tuf halus atau tanah berbatu yang tidak sarang. Jabon memerlukan iklim basah sampai kering dengan tipe curah hujan A sampai D (Schmidt & Ferguson, 1951), mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m dpl (Martawidjaja et al., 1989).
Silvikultur
Bibit dapat diperoleh dari permudaan alam maupun buatan. Permudaan alam dijumpai di tempat-tempat terbuka terutama di hutan bekas tebangan, jalan sarad atau bekas perladangan. Sedangkan permudaan buatan dilakukan dengan menyemaikan biji. Jarak tanam yang dapat digunakan adalah 3 x 3 m sampai 4 x 4 m (Soerianegara & Lemmens, 1994). Daam pertumbuhannya jabon membutuhkan cahaya yang cukup.
2.3 Gambaran umum pemupukan
Pupuk didefinisikan sebagai material yang ditambahkan ke tanah atau tajuk tanaman dengan tujuan untuk melengkapi ketersediaan unsur hara. Di dalam tanah unsur hara tersebut saling berinteraksi. Keragaman reaksi dan interaksi unsur-unsur tersebut berpengaruh pada efisiensi pemberian pupuk. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pemupukan antara lain kondisi tanah, karakter tanaman dan tingkat pertumbuhannya, jenis dan harga pupuk, dosis pupuk serta waktu dan cara penempatan pupuk. Cara pemupukan dapat dilakukan berbagai cara, salah satu cara pemberian pupuk dengan cara dibenamkan di dalam tanah. Cara tersebut lebih efektif dan efisien, karena dapat menghindari kehilangan hara akibat tercuci atau menguap.
2.4 Pupuk NPK
Menurut Lingga (1998) pupuk adalah zat yang berisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis terisap oleh tanaman dari tanah. Jadi memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Marsono dan Sigit (2002) menyatakan bahwa manfaat pupuk secara umum adalah menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia ditanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Namun secara rinci manfaat pupuk dapat dibagi kedalam dua macam, yaitu yang berkaitan dengan perbaikan sifat fisika tanah dan sifat kimia tanah.
Menurut Marsono dan Sigit (2002) manfaat utama dari pupuk yang berkaitan dengan sifat fisika tanah yaitu memperbaiki struktur tanah dari padat menjadi gembur. Struktur tanah yang sangat lepas, seperti tanah berpasir juga dapat diperbaiki dengan penambahan pupuk, terutama pupuk organik. Manfaat lain pemberian pupuk adalah mengurangi erosi pada permukaan tanah. Dalam hal ini pupuk berfungsi sebagai penutup tanah dan memperkuat struktur tanah dibagian permukaan.
Manfaat yang berkaitan dengan sifat kimia tanah menurut Marsono dan Sigit (2002) adalah menyediakan unsur hara yang dibutuhkan bagi tanaman.
Murbandono (19934) menyatakan bahwa unsur hara yang diperlukan tanaman dapat dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan tanaman. Ketiga golongan tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Unsur hara makro yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak, seperti Nitrogen (N), Fosfor (F), dan Potasium atau Kalium (K).
2. Unsur hara sedang (sekunder) yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, seperti Sulfur/belerang (S), Kalsium (Ca), dan Magnesium (Mg).
3. Unsur hara mikro yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, seperti besi (Fe), tembaga (Cu), seng (Zn), Khlor (Cl), boron (B), mangan (Mg), dan molibdenum (MO).
Menurut Marsono dan Sigit (2002) selain menyediakan unsur hara, pemupukan juga membantu mencegah kehilangan unsur hara yang cepat hilang, seperti N, P, dan K yangmudah hilang oleh penguapan. Pupuk juga dapat memperbaiki keasaman tanah.
Atas dasar kandungan unsur hara yang dikandungnya pupuk tediri dari pupuk tunggal dan mejemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk yang mengandung satu jenis hara tanaman seperti N, P, dan K saja, sedangkan pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara tanaman, seperti gabungan dari N dan P, N dan K, atau N dan P dan K (Sabiham et al, 1989)
Pupuk NPK (Nitrogen-Phosphate-Kalium) merupakan pupuk majemuk cepat tersedia yang paling dikenal saat ini. Kadar NPK yang sering beredar adalah 15-15-15, 16-16-16, dan 8-20-15. Tipe pupuk NPK tersebut juga sangat populer karena kadarnya cukup tinggi dan memadai unuk menunjang pertumbuhan tanaman (Marsono dan Sigit, 2002).
Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung dua atau tiga unsur hara primer. Jika unsur hara makro primer (N,P,K), unsur hara makro sekunder (Mg, Ca, dan S), dan dilengkapi dengan unsur hara mikro, pupuk tersebut dikategorikan sebagai pupuk majemuk lengkap. Fungsi masing-masing unsur makro primer antara lain :
Nitrogen ( N )
-Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan
-Merupakan bagian dari sel ( organ ) tanaman itu sendiri
-Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman
-Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun
-Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.
Fosfor ( P )
-Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
-Merangsang pembungaan dan pembuahan
-Merangsang pertumbuhan akar
-Merangsang pembentukan biji
-Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel
-Tanaman yang kekurangan unsur P gejaalanya: pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat )
Kalium ( K )
-Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.
-Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit
-Tanaman yang kekurangan unsur K gejalanya : batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar